SAMPIT – Dulu berdiri megah sebagai simbol harapan emas putih dari langit, kini bangunan-bangunan sarang burung walet di Kotawaringin Timur (Kotim) lebih banyak menjadi monumen bisu. Namun di balik kesunyian itu, masih ada keyakinan bahwa usaha ini belum mati hanya tertidur menunggu waktu untuk kembali bersinar.
Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Kotim, Susilo, menyatakan optimisme bahwa usaha sarang burung walet akan kembali bangkit jika dikelola dengan bijak dan didukung regulasi yang berpihak pada kepentingan daerah. “Walet itu makhluk alam, tidak bisa ditebak kehadirannya. Tapi saya yakin, mereka akan kembali. Dan saat itu tiba, kita harus siap dengan regulasi yang tepat,” katanya, Sabtu 31 Mei 2025.
Dia menyoroti kenyataan bahwa ekspor sarang walet dari Kotim kini anjlok drastis, meninggalkan ribuan rumah walet yang kosong tanpa penghuni. Beberapa rencana besar seperti pengembangan industri hulu dan hilir sarang walet pun akhirnya tertunda karena iklim usaha yang tak lagi menjanjikan. Menurutnya, salah satu kendala utama adalah belum adanya aturan tegas terkait legalitas pembangunan rumah walet serta sistem pajaknya.
“Kita punya ribuan gedung walet. Tapi berapa persen yang benar-benar menyumbang untuk PAD? Ini yang perlu dipikirkan serius,” tegas Susilo. Dia menekankan pentingnya penataan ulang mulai dari perizinan, pengawasan hingga pungutan pajak agar usaha walet tak hanya menguntungkan segelintir pihak, melainkan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Susilo bahkan mendorong agar Pemkab segera menerapkan aturan PBG (Persetujuan Bangunan Gedung) untuk rumah walet, yang selama ini banyak luput dari pendataan dan pengawasan. Pemerintah harus hadir bukan dengan tangan besi, tapi dengan keberpihakan. Taat pajak bukan sekadar kewajiban, tapi bentuk tanggung jawab untuk kemakmuran bersama,” ucapnya.
Tak hanya kepada pemerintah, Susilo juga mengajak seluruh pelaku usaha dan masyarakat untuk menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap potensi daerah. Ia percaya jika semua pihak terlibat aktif, usaha sarang walet tak hanya akan hidup kembali, tapi bisa menjadi salah satu penyokong utama ekonomi lokal. “Kalau kita semua kompak, gotong royong, Kotim bisa luar biasa. Regulasi hadir dari pemerintah, tapi kesadaran dan kemauan harus datang dari enumbuh:ng utama ekonomi lokal. �y m biedrioentGmatakalteng.com/a)iv class='jnewsost_title">agsv>

