SAMPIT – Rencana penutupan akses jalan ke Kampung Bengkirai di ujung landasan pacu Bandara H Asan Sampit memantik kekhawatiran warga. Di balik alasan menjaga Kawasan Keamanan Operasional Penerbangan (KKOP), masyarakat justru menghadapi potensi keterisolasian.
Melihat gejolak itu, DPRD Kotim mendesak pemerintah daerah tidak mengambil langkah sepihak tanpa memikirkan dampaknya terhadap warga yang selama ini menggantungkan hidup lewat akses tersebut.
Anggota DPRD Kotim Dapil II, Marudin, meminta pemerintah segera membuka ruang dialog terbuka bersama masyarakat terdampak.
“Menurut saya perlu sosialisasi terhadap rencana tersebut, duduk bersama antara pemerintah daerah dan tokoh masyarakat setempat sehingga informasi yang didapat tidak sepotong-sepotong,” tegasnya, Senin, 26 Mei 2025.
Ia menekankan pentingnya solusi konkret. Bukan sekadar memberi pengumuman penutupan, melainkan juga menyiapkan dua jalur alternatif yang fungsional.
Pertama, jalan untuk pejalan kaki dan kendaraan roda dua, yang bisa dibangun berupa terowongan demi memastikan anak-anak sekolah tidak terlambat dan tetap aman saat melintas.
“Kedua, akses jalan yang bisa dilalui kendaraan roda empat dan truk menuju Tjilik Riwut, agar aktivitas ekonomi warga tidak terganggu,”usulnya.
Marudin juga menyoroti perlunya fasilitas penerangan jalan umum agar warga tetap merasa aman saat menggunakan jalur alternatif, baik siang maupun malam hari. Menurutnya, pembangunan dua akses tersebut bisa menjadi solusi win-win bagi warga dan pihak bandara.
“Tujuan dari semua itu tentu untuk kenyamanan, keselamatan dan keamanan bersama. Masyarakat juga merasa diperhatikan, di sisi lain keselamatan penerbangan juga terjamin,” tutup politisi Fraksi PKB itu.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post