SAMPIT – Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Darmawati menyampaikan, harga sarang walet yang turun belakangan ini menjadi keluhan. Sehingga diharapkan hal ini mendapat penanganan dari pemerintah karena menyebankan persoalan ekonomi lainnya.
“Keluhan terhadap turun harga sarang walet yang sangat berpengaruh terhadap pendapat masyarakat mengakibatkan daya beli masyarakat menurun dan berakibat juga pada pembayaran pajak sarang walet tidak bisa bayar sehingga PAD juga menjadi turun,”ujarnya, Senin 5 Agustus 2024.
Menurutnya, sarang burung walet bisa dipanen tiga hingga empat kali dalam setahun atau empat bulan sekali. Dalam satu kali panen, pembudidaya bisa mengumpulkan 120-130 sarang atau 1-2 Kg. Karena itulah budidaya sarang burung walet ini dijadikan seperti investasi yang digandrungi oleh masyarakat di Kotim.
“Namun jika harganya turun sangat jauh, dengan perbandingan masa panen dan hasilnya tentu mereka yang berusaha di bidang ini bisa rugi,”tegasnya.
Menurut informasi ujarnya, terunya harga sangar walet terjadi disemua grade, baik grade mangkok maupun sudut-patahan. Meski demikian, sarang walet yang sudah dipanen tetap harus dijual segera, karena semakin lama seorang murid itu disimpan maka kualitasnya akan semakin menurun.
Terpisah, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kotim Ramadansyah mengakui realisasi PAD sarang burung walet pada tahun 2023 tidak mencapai target. Kondisi itu dinilai masih akan berpengaruh pada tahun 2024 akibat pembudidaya mengalami penurunan hasil panen.
“Adapun realisasi pajak sarang burung pada tahun 2024 saat ini mencapai 38,14 persen dari target Rp560 juta,”ungkapnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post