SAMPIT – Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Dadang Siswanto menyampaikan, kondisi Kota Sampit yang kini kerap kali dilanda banjir ketika hujan lebat harus menjadi perhatian agar kedepannya pemerintah secara teratur melakukan normalisasi sungai maupun anak sungai.
“Kita mendorong agar pemerintah menjadwalkan normalisasi sungai maupun anak sungai yang ada di sekitar kota Sampit secara berkala. Hal ini untuk meminimalisir terjadinya banjir, sehingga jangan sampai sudah terjadi banjir baru normalisasi dilakukan,”ujarnya, Kamis, 6 Juni 2024.
Menurutnya, DPRD sendiri pun sudah sangat sering mengingatkan pemerintah untuk melakukan pengerukan di beberapa titik sungai baik itu di Kecamatan Baamang maupun Ketapang karena mengalami pendangkalan.
“Seperti contoh aliran anak sungai dari Puskesmas Baamang II menuju muara sungai Mentaya. Itu kerap kali mengalami pendangkalan sehingga ketika turun hujan lebat anak sungai tidak mampu menampung dan akhirnya meluap ke jalan,”ungkapnya.
Dari pantauan, sejumlah titik di kota Sampit pada dua hari lalu ketika turun hujan dengan intensitas tinggi banyak mengalami banjir di antaranya pada Kecamatan Baamang, banjir merendam Jl. Cristopel Mihing beberapa lokasi jalan tergenang air, JI. Jaya Wijaya yang mana sungai di JI. Jaya Wijaya sedikit meluap dari bibir sungai dan JI. Walter Condrat.
Beruntungnya pada saat hujan lebat tersebut kondisi sungai Mentaya dalam keadaan surut, sehingga beberapa titik lainnya tidak terendam banjir seperti ketika air pasang.
Kemudian di Kecamatan MB Ketapang yang terendam banjir yaitu JL. Ir. Juanda, JI. Suprapto Selatan yang merendam tidak hanya jalan namun beberapa rumah warga sekitar. Kemudian JI. Jembatan Kuning 1, JI. Teratai dan JI. Manggis.
Terpisah, Kepala UPTD Pemeliharaan Jalan, Drainase dan Pertamanan Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kotim Slamet Giartono mengatakan, upaya pencegahan dan penanggulangan banjir di Kota Sampit terus dilakukan, bahkan pihaknya telah melakukan normalisasi sungai yang menyempit dan mendangkal, seperti di Sungai Pamuatan pada minggu lalu.
”Apa yang dilakukan petugas UPTD dari dinas terkait merupakan kegiatan pencegahan atau penanggulangan banjir di saluran primer Sungai Pamuatan. Kami menggunakan ekskavator amfibi untuk menormalisasi sungai yang padat penduduk, banyaknya bangunan, dapur atau rumah warga yang menjorok sampai ke alur sungai, sehingga menutup aliran sungai,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi saluran primer seperti di Sungai Pamuatan sudah terjadi penyempitan, lantaran banyaknya bangunan di kawasan tersebut.
“Semakin lama semakin sempit. Idealnya lebar sungai 10-15 meter, makanya kami lakukan normalisasi agar aliran sungai lancar,” katanya.
Dia berharap upaya yang dilakukan pemerintah didukung masyarakat. Sebab, jika banjir terjadi, masyarakat lah yang paling merasakan dampaknya. Saat ini banyak warga yang dengan kesadaran sendiri membongkar bangunannya yang menjorok ke sungai.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post