PALANGKA RAYA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Tengah menemukan persoalan distribusi hasil panen menjadi kendala utama petani di Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, meski ketersediaan pupuk untuk musim tanam 2026 dipastikan aman.
Wakil Ketua III DPRD Kalteng, Junaidi, menyampaikan hal itu usai melaksanakan kunjungan kerja ke Desa Makmur Jaya dan Desa Makmur Utama pada 28–31 Januari lalu. Kunjungan tersebut merupakan agenda penyerapan aspirasi di daerah pemilihan masing-masing.
Dalam pertemuan dengan kepala desa dan masyarakat, berbagai persoalan disampaikan, mulai dari sektor pertanian, pembangunan rumah ibadah, hingga distribusi pupuk. DPRD juga menghadirkan perwakilan Pupuk Indonesia untuk memastikan kondisi riil di lapangan.
“Pada prinsipnya pupuk untuk masa tanam 2026 cukup, bahkan siap. Harga juga berdasarkan informasi turun hampir Rp 20 ribu,” ujar Junaidi, Minggu 1 Maret 2026. Dia menegaskan, distribusi pupuk tidak menjadi kendala selama kelompok tani telah menyampaikan data kebutuhan secara lengkap.
“Kalau data permohonan dari poktan sudah ada, pendistribusian tidak ada masalah,” katanya. Meski demikian, persoalan besar justru muncul pada tahap pascapanen. Saat ini, hasil pertanian dari Desa Makmur Jaya dan Makmur Utama harus melalui jalur distribusi yang panjang dan berputar, bahkan lintas kabupaten dan provinsi, sebelum kembali dipasarkan ke Katingan atau Palangka Raya.
“Habis panen dibawa ke Kotim dulu menggunakan kapal, lalu ke Banjarmasin untuk dipacking, baru kembali lagi ke Katingan. Ini jelas tidak efisien,” jelasnya. Menurut Junaidi, masyarakat mengusulkan percepatan penanganan akses jalan dari Kampung Tengah menuju Pakahi agar hasil pertanian dapat langsung diangkut melalui jalur darat tanpa harus memutar.
“Kalau akses jalan itu terbuka, hasil pertanian bisa langsung dibawa ke Katingan atau Palangka Raya. Tidak perlu mutar dan biaya bisa ditekan,” tegasnya. Dia menilai potensi pertanian di wilayah tersebut sangat besar, bahkan masuk tiga besar di Kalteng setelah Kapuas dan Pulang Pisau dalam pengembangan kawasan food estate.
Namun tanpa dukungan infrastruktur logistik yang memadai, nilai tambah hasil panen belum maksimal dirasakan petani. “Produksi ada, pupuk aman. Yang jadi persoalan sekarang akses dan pascapanennya. Ini yang perlu kita dorong bersama,” pungkas Junaidi.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post