PALANGKA RAYA – Program cetak sawah baru di Kalimantan Tengah dinilai harus segera memperkuat sistem tata kelola air, menyusul meningkatnya curah hujan yang berpotensi mengganggu keberhasilan tanam. Komisi II DPRD Kalteng mengingatkan bahwa tanpa pengaturan drainase yang baik, lahan justru berisiko tergenang dan menyebabkan gagal tanam maupun gagal panen.
Anggota Komisi II DPRD Kalteng, Habib Sayyid Abdurrahman, menegaskan bahwa aspek pengelolaan air merupakan kunci utama dalam keberhasilan program cetak sawah baru maupun lahan persawahan yang sudah ada. “Melihat kondisi saat ini yang sudah memasuki musim penghujan, maka dalam proses cetak sawah baru hal yang tidak boleh dilupakan adalah tata laksana air. Pengaturan drainase tidak bisa diabaikan,” ujarnya, Jumat 21 November 2025.
Dia menjelaskan, sistem pengairan harus dirancang agar mampu menyesuaikan dua kondisi ekstrem: kebutuhan air saat musim kemarau dan pembuangan air saat musim hujan. “Pada saat musim kering, harus ada fasilitas agar air bisa masuk ke area persawahan. Namun pada saat musim hujan, air juga harus bisa dialirkan keluar agar tidak menggenangi lahan,” ucapnya.
Menurut Habib, pengaturan air pada fase awal tanam hingga menjelang panen sangat menentukan keberhasilan petani Karena itu, pihaknya meminta dinas teknis sektor pertanian benar-benar memperhatikan siklus iklim yang sedang berlangsung. Karena itu, pihaknya meminta dinas teknis sektor pertanian benar-benar memperhatikan siklus iklim yang sedang berlangsung.
“Jangan sampai nanti pada musim hujan, persawahan justru terendam, sehingga masyarakat mengalami kerugian, gagal tanam, atau bahkan gagal panen,” tegasnya. Dia menambahkan, program cetak sawah baru harus dirancang dengan mempertimbangkan kondisi meteorologis yang saat ini menunjukkan intensitas hujan dan debit air tinggi di sejumlah wilayah.
“Harapan kami dari Komisi II DPRD Kalteng, agar cetak sawah baru ini benar-benar berhasil. Untuk mencapai keberhasilan tersebut, semua faktor harus diperhatikan, termasuk faktor iklim,” katanya. Habib menegaskan bahwa keberhasilan memperluas area tanam tidak hanya bergantung pada pembukaan lahan, tetapi juga kesiapan infrastruktur pendukung, terutama manajemen air yang adaptif terhadap perubahan musim.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post