SAMPIT – Produk kerajinan tangan berbahan purun mulai mendapat perhatian di Kotawaringin Timur melalui kehadiran Huma Purun, sebuah brand lokal yang digagas oleh Krisma Drakel, seorang pegiat fashion yang kini serius menekuni usaha kerajinan khas daerah.
Dia pertama kali memasarkan produknya secara langsung melalui bazar kebudayaan yang digelar Dewan Adat Dayak (DAD) Kotim, dan antusias masyarakat menjadi dorongan baginya untuk terus mengembangkan usaha tersebut. Krisma mengatakan, ketertarikannya pada produk lokal sudah lama tumbuh bahkan sebelum Huma Purun berdiri.
“Saya memang sangat suka menggunakan produk lokal. Setiap ke kota mana saja selalu mencari produk khasnya, seperti eceng gondok dan kerajinan purun. Ini pertama kali saya turun berdagang khusus melalui event DAD Kotim,” ujarnya, Sabtu 29 November 2025. Meski berdomisili di Kotim, Krisma mengaku saat ini masih bekerja sama dengan pengrajin dari Buntok.
Ia datang langsung ke sana untuk mencari pengrajin yang bisa menghasilkan produk sesuai desain yang diinginkan. “Pengrajin kita sementara masih dari Buntok. Tapi ke depannya, jika didukung masyarakat dan daya beli meningkat, saya berharap produk ini bisa benar-benar menjadi ciri khas Kotim. Saya ingin ibu-ibu di kotim juga belajar membuatnya,” katanya.
Keinginan itu bukan tanpa alasan. Krisma bercerita bahwa sebagai putri daerah yang lahir dan besar di Sampit, ia sering kebingungan mencari oleh-oleh khas yang ramah dibawa bepergian. “Kalau mau keluar daerah, kita bingung mau membawa oleh-oleh apa. Tidak mungkin membawa Mandau ke pesawat. Dari situ saya mulai berpikir, apa yang bisa kita angkat dari daerah kita sendiri? Akhirnya terciptalah Huma Purun,” ungkapnya.
Menurut Krisma, pilihan menekuni kerajinan berbahan purun dan eceng gondok bukan hanya karena faktor minat pribadi, tetapi juga peluang untuk mendukung para pengrajin lokal. Dia bahkan berencana menghadirkan pengrajin dari Buntok untuk memberikan pelatihan langsung kepada ibu-ibu di Kotim, terlebih dirinya juga aktif sebagai anggota Perempuan Pengusaha Lintas Profesi (PPLP).
“Mungkin nanti kami bisa bekerja sama dengan ibu-ibu binaan PPLP agar semuanya berkembang bersama,” tambahnya. Sebelum menggeluti kerajinan, Krisma sempat berkecimpung di bidang kuliner. Namun banyaknya bazar makanan membuatnya mencari sesuatu yang berbeda.
“Saya ingin tampil beda tapi tetap membawa unsur budaya kita. Walaupun berbasis tradisional, desainnya tetap mengikuti tren kekinian,” ucapnya. Saat ini, Huma Purun menawarkan berbagai jenis produk, mulai dari tas full purun hingga yang dipadukan dengan bahan kulit berkualitas. Harganya beragam, mulai dari Rp25 ribu untuk produk kecil, hingga Rp200 ribu ke atas untuk produk kombinasi kulit.
“Ini bukan kulit sembarangan, karena saya pribadi juga memakainya. Jadi bahan harus benar-benar berkualitas,” katanya. Respon masyarakat cukup positif. Pembelinya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ibu-ibu hingga anak-anak SMA. Ragam motif dan desain semi-modern menjadi daya tarik utama. Di luar bazar, promosi juga dilakukan melalui media sosial untuk menjangkau pembeli dari luar daerah.
“Kalau ada yang mau beli dari luar, tentu bisa kami kirim,” ujarnya. Menurut Krisma, sejauh ini tidak ada tantangan berat dalam menjalankan usaha ini. Justru tantangan terbesarnya adalah bagaimana produk ini bisa menjadi identitas Kotim dan dikenal di luar daerah. “Harapan saya, Huma Purun dapat memperkenalkan Sampit dan Kotim ke mana saja. Kita harus punya sesuatu yang bisa dibanggakan sebagai oleh-oleh khas,” pungkasnya.
Dengan komitmen mengembangkan kerajinan lokal dan rencana pemberdayaan pengrajin ibu-ibu di Kotim, Huma Purun digadang-gadang berpotensi menjadi ikon baru buah tangan khas Sampit yang bernilai budaya sekaligus bernilai ekonomi.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post