SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur mendorong Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia wilayah Kalimantan Tengah untuk terus berperan sebagai penggerak pendidikan berkarakter. Hal itu disampaikan Staf Ahli Bupati Kotim, Rafiq Iswandi, saat menghadiri Seminar Hari Guru Nasional (HGN) 2025 sekaligus penutupan Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-5 JSIT Kalteng di Sampit, Minggu 30 November 2025.
“Kehadiran jaringan Sekolah Islam Terpadu ini sangat kita sambut baik, karena sekolah Islam membangun karakter anak-anak kita menjadi pribadi berakhlakul karimah, cerdas, dan memiliki daya saing. Kita berharap sekolah-sekolah ini terus berkembang dan menjadi salah satu tulang punggung pendidikan utama di Kotim,” ujar Rafiq, Minggu 30 November 2025.
Ia menegaskan pemerintah selalu menaruh perhatian besar pada sektor pendidikan, baik di tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten. Menurutnya, kualitas pendidikan menentukan arah kemajuan bangsa, bukan hanya dalam konteks akademik, tetapi juga pembentukan karakter.
“Guru adalah pilar peradaban dan penjaga masa depan. Semangat mereka, meski menghadapi tantangan geografis maupun sarana, adalah kekuatan utama pendidikan kita,” lanjutnya. Rafiq juga menyoroti pentingnya peran JSIT dalam memperkaya dunia pendidikan melalui integrasi akademik, karakter, spiritualitas, dan keteladanan. Konsep pendidikan holistik ini, ujarnya, sejalan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan yang membahagiakan dan memandirikan.
“Sekolah Islam Terpadu mempersiapkan generasi berakhlak mulia dan berdaya saing global. JSIT adalah bagian dari ikhtiar menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya. Dihadapan para peserta Muswil, Rafiq menyampaikan apresiasi kepada pengurus JSIT periode sebelumnya dan mengucapkan selamat kepada pengurus terpilih periode 2025–2029. Pemerintah Kotim, katanya, siap memperkuat kolaborasi dengan JSIT dalam memastikan pendidikan yang layak dan inklusif bagi seluruh anak.
“Kami berharap Muswil ini menghasilkan keputusan strategis untuk mempercepat kemajuan pendidikan di Kalimantan Tengah, demi menyongsong Kalteng Berkah,” tutupnya. Sementara Ketua terpilih JSIT Kalteng periode 2025–2029, Ustadzah Suchrotul Amin dari Kotawaringin Barat, menegaskan bahwa kepengurusan baru akan berjalan dengan prinsip kebersamaan. Delapan tahun masa amanah, katanya, tidak mungkin dijalankan seorang diri.
“Kami membutuhkan kebersamaan semua pihak, termasuk para senior yang ilmunya lebih banyak. Bimbingan sangat kami harapkan bila di perjalanan nanti ada kebingungan atau kesalahan dalam mengambil keputusan,” ucapnya. Program prioritas yang segera dijalankan adalah pembentukan tim koordinator daerah (Korda), yang selama ini belum berjalan optimal. Penguatan struktur daerah dinilai penting agar koordinasi program lebih efektif dan capaian hasil Munas dapat dipantau dengan baik.
“Kami ingin fokus ke daerah agar koordinasi lebih mudah dan capaian program bisa terukur,” tegasnya. Dia juga mengungkap tantangan pendidikan Islam terpadu, terutama terkait persepsi masyarakat mengenai sekolah berbayar. Banyak orang tua menganggap pendidikan berbayar berarti semua urusan pendidikan menjadi tanggung jawab sekolah sepenuhnya.
“Kadang orang tua merasa karena sudah membayar, mereka tinggal mengantar dan menerima hasil. Padahal kami ingin orang tua bersinergi, karena pendidikan pertama ada di rumah. Sekolah hanya menjadi partner dalam mengarahkan sesuai kurikulum dan fitrah anak,” jelasnya. Selain itu, internalisasi nilai-nilai keislaman di sekolah tidak selalu dilanjutkan di rumah, sehingga berdampak pada pencapaian standar kompetensi lulusan.
“Capaian belum bisa 100 persen karena nilai-nilai yang kami tanamkan kadang tidak dilanjutkan di rumah, sehingga proses pendidikannya tidak berkesinambungan,” ujarnya. Melalui kepengurusan baru, Suchrotul berharap seluruh sekolah di bawah JSIT Kalteng semakin solid, progresif, dan mampu menjawab kebutuhan pendidikan masa depan.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post