SAMPIT — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit tak hanya melayani kesehatan masyarakat, tapi kini juga serius mengukuhkan peran sebagai rumah sakit pendidikan.
Hal itu ditandai dengan diterimanya sebanyak 38 mahasiswa kedokteran dari Universitas Palangka Raya (UPR) untuk menjalani praktik klinik atau koas di berbagai bidang spesialis.
“Ini bukan sekadar menerima dokter muda, tapi bagian dari komitmen kami untuk bertransformasi. RSUD dr Murjani ingin jadi rumah sakit yang tak hanya melayani, tapi juga mendidik,” ungkap Plt Direktur RSUD dr Murjani, dr Yulia Noviany, Senin 14 Juli 2025.
Para dokter muda yang diterima terdiri dari tiga program studi, yakni Telinga Hidung Tenggorokan (THT), Psikiatri, dan Ilmu Kesehatan Anak. Menariknya, untuk prodi THT dan Psikiatri, ini merupakan kali pertama mereka melaksanakan praktik di rumah sakit tersebut.
“Prodi THT dan Psikiatri menjalani koas selama lima minggu penuh di Murjani. Sementara untuk prodi anak, mereka praktik selama sepuluh minggu yang dibagi dua tahap: lima minggu di Murjani dan lima minggu berikutnya di Palangka Raya,” jelasnya.
Yulia menekankan bahwa kehadiran para dokter muda ini membawa tantangan tersendiri bagi manajemen rumah sakit. Para dokter yang menjadi pendamping klinik dituntut lebih profesional, karena peran mereka kini bukan hanya melayani pasien, tetapi juga mendidik calon dokter.
“Ketika kita memutuskan menjadi rumah sakit pendidikan, maka semua aspek harus ikut naik kelas. Artinya, pelayanan ke pasien harus lebih sesuai standar, dan para dokter harus siap menjadi mentor. Ini juga menjadi proses pembelajaran bagi kami untuk terus memperbaiki diri,” tegasnya.
Pihak RSUD dr Murjani pun menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Fakultas Kedokteran UPR atas kepercayaan yang diberikan. Rumah sakit bertekad memberikan pengalaman terbaik bagi para dokter muda yang sedang menjalani masa transisi menuju dunia profesional.
“Kami ingin mereka mendapatkan lebih dari sekadar ilmu. Kami ingin mereka menyerap nilai-nilai pelayanan, mutu, dan profesionalisme. Kami berharap, ketika mereka kembali ke masyarakat, mereka jadi dokter yang tidak hanya cakap secara klinis tapi juga berintegritas,” tutup Yulia.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post