SAMPIT — Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun 2025 di SMP Negeri 1 Sampit tampil dengan kemasan berbeda. Tidak hanya menjalankan program nasional tentang sekolah ramah anak.
MPLS kali ini juga menyoroti isu-isu sosial yang berkembang seperti antisipasi judi online, pernikahan dini, hingga penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif (nafsa). Semua itu dikemas dalam metode “unjuk kerja” yang lebih komunikatif dan menyenangkan bagi siswa.
“Alhamdulillah, MPLS tahun ini kami kemas secara berbeda. Bila sekolah lain mungkin hanya berupa ceramah, kami menyampaikan materi melalui praktik langsung. Contohnya, penyambutan siswa baru dilakukan secara ramah dengan pendampingan oleh kakak kelas, termasuk saat upacara tadi pagi,” ujar Kepala SMPN 1 Sampit, Suyoso, Senin 14 Juli 2025.
Ia menyebutkan, program MPLS di sekolahnya memuat tiga hal utama yang ditekankan kepada siswa baru. Pertama, pengenalan lingkungan sekolah, mulai dari gedung, ruang, guru, hingga program sekolah. Kedua, pengenalan kegiatan, baik ekstrakurikuler, kokurikuler, maupun intrakurikuler.
Ketiga, pengenalan mitra sebagai sumber belajar, seperti Puskesmas, kepolisian, hingga instansi lainnya.
“Ini menjadi indikator bahwa sekolah sedang menerapkan pembelajaran mendalam. Anak-anak tidak hanya dikenalkan pada isi materi, tetapi juga belajar dari sumber-sumber nyata. Kami punya 29 sumber pembelajaran yang melibatkan instansi luar, seperti Polres, Dinas Kesehatan, dan Puskesmas,” jelasnya.
Kegiatan MPLS juga dikaitkan dengan program afirmasi pendidikan. Hari ini, Bupati Kotim dijadwalkan mengunjungi SMPN 1 Sampit sebagai bentuk apresiasi terhadap pelaksanaan MPLS yang inovatif sekaligus menyerahkan bantuan bagi siswa afirmasi.
“Ini menjadi bukti bahwa pemerintah daerah ikut berkontribusi dalam mendukung pendidikan. Semoga atensi seperti ini bisa semakin diperbanyak,” imbuhnya.
Selain materi wajib, siswa juga mendapat materi pilihan yang sesuai dengan budaya sekolah, dan materi tersebut disosialisasikan melalui berbagai metode, seperti pembuatan poster, kunjungan ke ruang-ruang panduan, hingga kegiatan outing class ke mitra pendidikan.
Terkait adanya isu bahwa ada siswa yang belum bisa membaca saat masuk SMP, Suyoso menegaskan bahwa penerimaan siswa harus berdasarkan ketentuan yang berlaku. Sekolah tidak melakukan seleksi berbasis kemampuan literasi, melainkan melalui jalur zonasi, afirmasi, prestasi, dan mutasi.
“Jika ada siswa yang masuk dan belum bisa membaca, maka wajib kami terima. Ini bagian dari pelayanan inklusif. Tidak masalah, karena sekolah memang bukan tempat menyaring, tapi tempat membina,” tegasnya.
Ia memastikan bahwa semua siswa akan mendapatkan perlakuan dan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
“Sampai hari ini kami belum menemukan siswa kelas 7 yang belum bisa membaca, tapi jika di kemudian hari ditemukan, tetap akan kami bina. Karena sekolah adalah tempat belajar, bukan tempat menolak,” tuturnya.
SMPN 1 Sampit menerima sebanyak 288 siswa baru yang tersebar di 9 kelas, masing-masing berisi 32 siswa. Jika digabung dengan siswa kelas 8 dan 9, total keseluruhan siswa mencapai 890 orang.
“Sesuai aturan, satu ruang maksimal 32 siswa. Kami pastikan semuanya terakomodasi dengan baik,” tambahnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post