SAMPIT – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sampit bekerja sama dengan Puskesmas Ketapang I Sampit skrining penyakit menular (HIV/AIDS). Skrining ini dilakukan dengan melakukan pengambilan sampel darah pada 50 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) baru selama enam bulan terakhir. Selasa, 3 September 2024.
Skrining ini merupakan bagian dari sinergitas antara Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur (Kotim) dengan Lapas Kelas IIB Sampit dan Puskesmas Ketapang I.
Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dini kemungkinan adanya penularan HIV/AIDS di antara para WBP, sekaligus memastikan bahwa lingkungan Lapas tetap sehat dan bebas dari penyakit menular.
Dalam kegiatan tersebut Plh. Kasubsi Keperawatan Sustetiana, Petugas Kesehatan Lapas Sampit, serta tim dari Puskesmas Ketapang I. Proses skrining dimulai dengan pendataan diri setiap WBP yang terlibat.
Setelah itu, dilakukan pengambilan sampel darah menggunakan Blood Lancet sebanyak kurang lebih 5 mikron. Sampel darah tersebut kemudian ditempatkan pada alat Ravid Tes HIV/AIDS yang telah diberi label khusus.
Pemberian label ini dilakukan secara teliti dengan nomor urut pada setiap alat tes guna menghindari kesalahan identifikasi antara sampel dan WBP. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga akurasi dan kepercayaan dalam proses skrining tersebut.
Plh. Kasubsi Keperawatan Sustetiana menjelaskan bahwa skrining ini merupakan langkah penting dalam mendeteksi dini penularan HIV di lingkungan Lapas.
“Skrining ini merupakan upaya penanggulangan sejak dini penyakit HIV pada WBP yang kami lakukan melalui pemeriksaan,” ungkap Sustetiana.
Hasil dari skrining yang dilakukan menunjukkan kabar baik. Dari 50 WBP yang diperiksa, tidak ada satu pun yang terdeteksi mengidap Virus HIV/AIDS. Artinya, semua WBP yang mengikuti skrining dinyatakan bebas dari penyakit mematikan tersebut.
Dengan hasil ini, Lapas Sampit menunjukkan keseriusannya dalam menjaga kesehatan para WBP. Kegiatan semacam ini juga diharapkan dapat terus dilakukan secara rutin untuk memastikan bahwa semua WBP mendapatkan perlindungan kesehatan yang maksimal selama masa pembinaan mereka.
(gus/matakalteng)






















Discussion about this post