SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi membuka rangkaian Sampit Expo 2026, Gelora Kriya Dekranasda Kotim, dan Festival Budaya Habaring Hurung yang digelar secara simultan di Sampit, Selasa 7 Januari 2026.
“Ketiga event besar ini menjadi bagian penting dalam memeriahkan Hari Jadi ke-73 Kabupaten Kotawaringin Timur sekaligus momentum strategis penguatan sinergi lintas sektor,”kata Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor, Kamis 8 Januari 2026.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar perayaan seremonial, tetapi menjadi wujud nyata kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam mendorong transformasi ekonomi dan sosial menuju Kotim yang sejahtera, bermartabat, maju, dan berkelanjutan.
“Melalui keterpaduan pelayanan publik dan pengembangan potensi daerah, kegiatan ini menjadi langkah konkret membangun ekonomi rakyat yang inklusif,” ujarnya.
Sampit Expo 2026 menghadirkan 105 stand UMKM, pengusaha muda, dan pelaku ekonomi kreatif yang menjadi etalase produk-produk unggulan daerah.
Ajang ini memberikan ruang strategis untuk meningkatkan brand awareness, memperluas exposure produk secara langsung, sekaligus menjadi wahana edukasi, inovasi, serta pengenalan tren industri dan jejaring bisnis, baik regional, nasional, hingga internasional.
Selain itu, terdapat 60 stand perangkat daerah, BUMD, dan BUMN yang berfungsi sebagai media interaksi langsung antara pemerintah dan masyarakat.
“Melalui stand-stand tersebut, berbagai layanan publik dan produk diperkenalkan secara lebih dekat, terbuka, dan informatif, sehingga memperkuat transparansi serta kepercayaan publik,”tegas Halikinnor.
Nuansa seni dan budaya semakin kuat dengan digelarnya Gelora Kriya Dekranasda Kotim 2026 yang menampilkan 14 booth komunitas pengrajin dan seniman. Kegiatan ini menjadi ruang tumbuh bagi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, sekaligus mendorong inovasi yang berakar dari budaya daerah.
Rangkaian kegiatan ini semakin paripurna dengan penyelenggaraan Festival Budaya Habaring Hurung, yang melombakan 17 atraksi kesenian, permainan, dan olahraga tradisional.
“Festival ini tidak hanya berfungsi sebagai upaya pelestarian warisan leluhur, tetapi juga memperkokoh identitas diri dan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Kotawaringin Timur,”ucapnya.
Keunikan dan keautentikannya menjadikan Festival Budaya Habaring Hurung sebagai magnet utama bagi wisatawan domestik maupun internasional.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur menargetkan pengembangan desa-desa wisata budaya secara lebih optimal sebagai destinasi unggulan. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan citra daerah sekaligus mendongkrak pendapatan masyarakat secara berkelanjutan.
Penyelenggaraan ketiga event yang berlangsung selama 7–14 Januari 2026 ini diperkirakan memicu peredaran uang sebesar Rp7–8 miliar, di luar aktivitas ekonomi eksternal lainnya selama masa persiapan.
Dampak tersebut menciptakan multiplier effect terhadap berbagai sektor usaha, mulai dari bahan bangunan, pakaian, kuliner, hingga jasa pendukung lainnya.
Momentum ini dinilai sebagai kebangkitan ekonomi rakyat yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan, sekaligus menjadi bentuk komitmen nyata Kabupaten Kotawaringin Timur dalam mendukung pencapaian visi dan misi pembangunan Provinsi Kalimantan Tengah.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post