SAMPIT – Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bersama Badan Pangan Nasional, Bulog, PrimaFood, dan Kios Pangan di Taman Kota Sampit pada Selasa 2 Desember 2025 langsung diserbu warga.
Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB itu hanya berlangsung sekitar 15 menit sebelum seluruh komoditas hampir habis terjual karena tingginya antusias masyarakat.
“Hari ini merupakan kegiatan untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan, terutama menjelang hari besar keagamaan. Sebentar lagi memasuki Natal dan Tahun Baru, biasanya harga-harga naik. Ini salah satu upaya pemerintah untuk membantu masyarakat mendapatkan pangan dengan harga murah,” kata Mira Septiasari, Analis Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim, Selasa 2 Desember 2025.
Ia menjelaskan harga yang ditawarkan lebih murah karena pemerintah mendatangkan langsung distributor sebagai vendor.
“Kami memutus mata rantai distribusi. Jadi harganya langsung dari distributor, bukan melalui perantara,” ujarnya.
Berbagai kebutuhan pokok dijual dengan harga terjangkau, meliputi beras SPHP seharga Rp 58.000 per sak, beras premium Rp 76.000 per sak, beras lokal Pagatan 5 kilogram Rp 73.000 per sak, bawang merah Rp 35.000 per kilogram, bawang putih Rp 30.000 per kilogram, gula pasir Rp 16.000 per kilogram, minyak Kita Rp 15.000 per liter, serta minyak SIIP dan Sovia dengan harga distributor.
Selain itu tersedia telur ayam ras Rp 55.000 per sap, ikan patin dari Dinas Perikanan Rp 25.000 per kilogram, sayuran Rp 5.000, serta sejumlah produk frozen food dan minyak premium yang juga diminati pembeli.
“Stok beras yang disiapkan mencapai dua ton untuk jenis SPHP dan premium, serta lima kuintal untuk beras lokal Pagatan,”bebernya.
Komoditas lain seperti bawang merah sebanyak 80 kilogram, bawang putih 50 kilogram, telur ayam ras 50 saf, gula 200 kilogram, dan minyak goreng 25 dus juga disediakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Seluruhnya terserap cepat dan menjadi incaran utama warga yang datang sejak pagi.
“Barang-barang yang dijual ini merupakan kebutuhan pokok, terutama yang menjadi penyumbang inflasi bulan kemarin. Beras masih menjadi komoditas yang paling besar mendorong inflasi. Untuk cabe memang belum menyumbang inflasi, tapi biasanya jelang akhir tahun harganya mulai naik,” jelas Mira.
Ia menyebut masyarakat menunjukkan respons yang sangat positif. Karena harganya jauh lebih murah dibandingkan di pasar, tidak heran hanya 15 menit hampir semua dagangan habis.
Mira menyampaikan bahwa untuk tahun ini anggaran GPM sudah habis digunakan. Namun kegiatan serupa direncanakan kembali berlangsung pada awal tahun mendatang.
“Kemungkinan nanti di awal tahun, insya Allah ada lagi berbarengan dengan kegiatan Kotim. Harapannya tetap bisa membantu masyarakat menjaga daya beli dan mendapatkan harga pangan yang stabil,” ujarnya.
Gerakan Pangan Murah ini menjadi salah satu langkah nyata pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas pasokan serta harga pangan di tengah potensi gejolak menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Kehadiran GPM diharapkan dapat terus memberi manfaat, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah yang sangat terbantu dengan harga distributor yang ditawarkan.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post