SAMPIT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dan peka terhadap potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga Februari 2026.
Kepala BPBD Kotim Multazam menyebut, berdasarkan data dan peringatan dari BMKG, kondisi cuaca dengan intensitas tinggi masih berpotensi menimbulkan bencana seperti pohon tumbang, genangan air, hingga banjir rob di beberapa wilayah.
“Peringatan dari BMKG sudah berulang, dan sejak tanggal 7 November lalu memang terjadi beberapa kali cuaca ekstrem dengan kecepatan angin mencapai 56 kilometer per jam. Bahkan pada 9 November, tercatat kecepatan angin sekitar 52 kilometer per jam, dan itu sudah cukup kuat untuk menimbulkan kerusakan,” kata Multazam, Senin 10 November 2025.
Ia menjelaskan, cuaca ekstrem seperti ini sulit diprediksi secara tepat karena perubahan atmosfer bisa terjadi sangat cepat. Oleh sebab itu, masyarakat diminta untuk memperhatikan tanda-tanda alam dan segera menghindar dari area berisiko saat angin kencang mulai terasa.
“Kalau melihat tanda-tanda alam seperti awan gelap pekat dan hembusan angin kencang, sebaiknya jangan beraktivitas di luar ruangan, apalagi di bawah pohon rindang. Angin kencang di atas 50 kilometer per jam bisa berbahaya dan berpotensi menyebabkan pohon tumbang atau benda terbang,” ujarnya mengingatkan.
Lebih lanjut, Multazam juga menyoroti kondisi beberapa wilayah pesisir, seperti Desa Ujung Pandaran, yang kembali mengalami banjir rob. Tim BPBD masih melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan camat setempat untuk menindaklanjuti laporan tersebut.
“Untuk Ujung Pandaran memang sedang terjadi banjir rob, dan ini sedang kami dalami bersama pihak kecamatan Teluk Sampit. Sementara itu, genangan air juga muncul di beberapa titik kota, namun sejauh ini drainase masih cukup kuat menampung air hujan karena pasang surut Sungai Mentaya masih aman,” jelasnya.
Ia menegaskan, hingga kini belum ada laporan terjadinya angin puting beliung di wilayah Kotim, namun potensi gangguan akibat cuaca ekstrem tetap ada. Karena itu, BPBD mengimbau agar masyarakat lebih waspada dan tidak mengabaikan peringatan dini dari BMKG yang disampaikan melalui berbagai kanal informasi.
“Cuaca ekstrem ini sama seperti bencana lain, sulit dideteksi dengan cepat dan lokasinya tidak bisa diestimasi secara pasti. Jadi masyarakat harus memperhatikan peringatan dini BMKG, meski terkadang informasi datang sedikit terlambat karena kecepatan angin bisa lebih duluan,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post