SAMPIT – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit mencatat kondisi cuaca di Kotawaringin Timur (Kotim) masih dipengaruhi gangguan atmosfer akibat siklon di wilayah utara dan timur Kalimantan. Hal ini menyebabkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih terjadi meski sudah memasuki awal musim kemarau.
“Kemarin terpantau ada gangguan cuaca akibat siklonik di Timur dan Utara Kalimantan. Ini menyebabkan hujan masih turun di wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kotim. Seharusnya musim kemarau dimulai pada dasarian kedua Juni, sekitar tanggal 11 ke atas, tapi karena kondisi cuaca terganggu, hujan masih terjadi,” kata Kepala BMKG Bandara H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, Rabu 25 Juni 2025.
Menurutnya, kemarau tahun ini tergolong normal karena kondisi El Nino saat ini berada di fase netral. Artinya, tidak ada pemicu signifikan yang memperparah kekeringan.
“Ini yang membuat kondisi sekarang dikenal sebagai kemarau basah, karena meski sudah kemarau, hujan masih bisa turun beberapa hari,” jelasnya.
Ia menambahkan, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2025. Saat ini sebagian wilayah selatan dan tengah Kotim sudah memasuki masa kemarau, dan patut diwaspadai karena durasinya yang panjang.
“Terutama wilayah selatan yang sangat mudah terjadi karhutla karena lahan gambut rawan terbakar, apalagi kelembaban mulai menurun, dan suhu harian meningkat meski saat ini suhu masih normal di kisaran 30 hingga 32 derajat Celsius,” sebutnya.
Untuk sepekan ke depan, BMKG masih memantau potensi hujan akibat bibit siklon di wilayah utara Kalimantan dan belokan angin yang membentuk penumpukan awan. Namun hujan diprediksi tidak merata dan lebih bersifat lokal.
“Kemarin itu memang sempat hujan merata karena gangguan cuaca yang cukup signifikan. Tapi untuk potensi banjir tahun ini belum terlihat,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post