SAMPIT – Angka stunting di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus menunjukkan tren menurun signifikan. Berdasarkan data Riskesdas dan SKI, prevalensi stunting yang sempat menyentuh 48,84 persen pada 2018 berhasil ditekan menjadi 27,9 persen pada 2022, dan terakhir 35,5 persen pada 2023.
Sementara itu, versi e-PPGBM mencatat penurunan dari 26,5 persen pada 2020 menjadi 19,1 persen pada 2024. Namun, Polres Kotim menilai perjuangan belum usai.
“Penanganan stunting tidak bisa setengah-setengah. Lewat Gebyar Posyandu yang digagas Kapolda Kalteng dan dilaksanakan seluruh Polres jajaran Polda Kalteng, kami berupaya menjangkau seluruh kelompok usia, memberikan layanan kesehatan gratis, dan mengedukasi masyarakat agar sadar pentingnya pencegahan sejak dini,” kata Kapolres Kotim, AKBP Resky Maulana Zulkarnain, Jumat 23 Mei 2025.
Khususnya, dalam Gebyar Posyandu yang digelar di Desa Pelangsian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, pelayanan menyasar 354 peserta: 21 ibu hamil, 121 balita, 46 lansia, dan 166 dari Posbindu.
Layanan yang diberikan mencakup penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, lingkar kepala dan lengan atas, imunisasi, pemberian vitamin A dan obat cacing (Februari dan Agustus), hingga penyuluhan kesehatan.
Tak hanya untuk balita dan ibu hamil, pemeriksaan juga menyasar remaja usia 10–18 tahun dan kelompok dewasa hingga lansia. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, skrining TBC, skrining kesehatan jiwa, hingga skrining aktivitas lansia turut dilakukan oleh personel Sidokkes Polres Kotim, kader Bhayangkari, dan tenaga kesehatan dari Puskesmas Ketapang II.
“Upaya ini tak berdiri sendiri. Polres Kotim juga rutin menggelar Posyandu ibu hamil dan menyusui, Posyandu anak, Posyandu mobile, serta pemberian makanan tambahan,”ujarnya.
Sebab, data mencatat jumlah balita usia 0–59 bulan di Kotim mencapai 36.251 jiwa, bayi 0–5 bulan sebanyak 4.116 jiwa, bayi 6–23 bulan 9.303 jiwa, dan anak usia prasekolah 1.483 jiwa. Jumlah remaja putri (rematri) bahkan menyentuh 22.170 jiwa dan ibu hamil sebanyak 8.002 jiwa.
Wilayah padat penduduk seperti Ketapang I dan II serta Baamang I dan II menjadi prioritas karena tingginya angka bayi dan balita. Di Ketapang I saja terdapat 3.240 balita, sementara Baamang I mencatat 3.314 balita.
“Wilayah dengan jumlah bumil tertinggi juga ada di Ketapang I dan II, masing-masing 1.053 jiwa. Berdasarkan Pendataan Keluarga 2024, keluarga berisiko stunting terbanyak berada di Pulau Hanaut (2.510 keluarga), disusul Mentawa Baru Ketapang (2.187) dan Baamang (1.905),”tegasnya.
Sayangnya, capaian beberapa layanan penting masih di bawah target. Misalnya, bayi di bawah 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif baru mencapai 65 persen dari target 80 persen. Pemberian MP-ASI untuk anak 6–23 bulan baru 70 persen, dan penanganan gizi buruk balita hanya 33 persen dari target 80 persen.
“Ditambah lagi, rata-rata entri data balita di E-PPGBM se-Kotim hanya 42,8 persen, dengan capaian tertinggi di Kecamatan Kota Besi (66,6 persen) dan terendah di Teluk Sampit (25,4 persen),”bebernya.
Kondisi ini mendorong pentingnya pendekatan kolaboratif dan berbasis data. Dengan layanan yang semakin menyentuh langsung ke masyarakat, seperti dalam Gebyar Posyandu ini, Polres Kotim berharap tren positif penurunan stunting terus terjaga dan semakin membaik ke depan.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post