SAMPIT – Suasana ruang kelas 7-2 SMP Negeri 1 Sampit berubah hangat dan penuh makna. Bukan guru yang memberi pelajaran, melainkan tiga orang tua siswa yang membagikan kisah hidup mereka di hadapan para pelajar.
Inilah akhir dari program “Orang Tua Bercerita” semester ini, sebuah inisiatif unik yang menyatukan pendidikan sekolah dengan hikmah kehidupan di rumah.
“Program ini sudah kami jalankan selama setahun penuh. Setiap bulan satu orang tua kami jadwalkan untuk berbagi cerita, dan hari ini giliran terakhir,” ujar Rusmaliah, wali kelas 7-2, Jumat 23 Mei 2025.
Ia menjelaskan, kegiatan ini bukan sekadar mendengarkan cerita, tetapi juga sebagai ruang refleksi antara siswa dan orang tua yang jarang bertemu di lingkungan formal seperti sekolah.
Program ini rupanya tak hanya memantik semangat siswa, tapi juga menggugah kesadaran orang tua akan pentingnya kolaborasi dalam pendidikan.
“Orang tua harus ikut berpartisipasi, bukan hanya mendukung dari luar. Dengan bercerita, kami titipkan nilai karakter, semangat nasionalisme, keberanian, hingga kejujuran kepada anak-anak,” kata Alfisah, Ketua Komite Kelas.
Tak kalah berkesan bagi siswa. Rizky Julian Prawira, peserta didik kelas 7-2, mengaku mendapatkan banyak pelajaran hidup dari program ini.
“Saya senang. Cerita mereka jadi inspirasi dan pelajaran yang tak ada di buku. Bisa menambah wawasan dan skill juga,” ungkapnya dengan antusias.
Di tengah tuntutan akademik dan perkembangan teknologi, program sederhana seperti ini justru menjadi pengingat kuat bahwa pendidikan karakter tak bisa hanya didelegasikan ke sekolah. Ia tumbuh dari teladan, dan teladan itu, terkadang, datang dari sosok terdekat—orang tua sendiri.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post