SAMPIT – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati mengungkapkan kabupaten dengan falsafah Habaring Hurung telah menjadi daerah terbuka bagi siapa saja yang akan berkarya. Dirinya menilai keberagaman etnik, suku dan ras itu yang nantinya seharusnya berpotensi untuk memajukan Kotim.
“Kabupaten Kotim menjadi daerah yang terbuka bagi siapa saja yang ingin berkarya di sini. dan ini telah menjadi ciri khas daerah kita, ” katanya, Minggu 5 Mei 2024. Disampaikan, keberagaman tersebut menjadikan Kotim sebagai kabupaten yang sangat plural dengan berbagai macam latar belakang etnik, ras dan suku. Diketahui, tidak hanya penduduk lokal, suku Jawa, Madura, Batak, juga Sulawesi cukup banyak merantau ke wilayah tersebut.
“Itu malah menjadi potensi yang positif bagi Kotim, untuk bisa saling kerkolaborasi dan bersinergi dalam pelaksanaan pembangunan, karena bagaimanapun biasanya perantau biasa memiliki semangat dan etos kerja yang tinggi, sehingga ini menjadi modal dasar untuk kita melaksanakan pembangunan, ” ungkapnya.
Lanjutnya, namun disisi lain dapat menjadi potensi disintegrasi apabila pemrintah tidak managemen dengan baik. salah satu yang pernah kita rasakan adalah konflik horizontal tahun 2001 yang silam, menjadi konflik sosial berdarah yang terbesar sebanjang sejarah Kotim bahkan mungkin nasional.
Irawati menyampaikan, hal itu harus menjadi pelajaran untuk semua. Oleh karena ini, kepala daerah memiliki tanggungjawab yang teramat besar dalam menjaga kedamaian yang telah terjadi pasca konflik 2001 yang lalu. “Saya harap semua paguyuban dari berbagi suku yang ada di daerah ini mari kita bersama-sama menjaga perdamaian untuk kita saling menghormati berbagai cara pandang yang berbeda-beda,” ajaknya.
Dirinya juga berharap falsafah Habaring Hurung ini dapat dijadikan prinsip dalam berinteraksi untuk saling membangun kebersamaan, bahu membahu, bergotorng royong dan sebagai solidaritas sosial. Serta falsafah Human Betang, dimana bumi dipijak disitu langit di junjung, yang memiliki makna menghargai nilai-nilai kearifan lokal yang ada daerah setempan.
“Apa yang menjadi falsaah ini menjadi perekat sosial untuk kita salin berkolaborasi, kerjasama membangungun hubungan sosial yang baik sehingga ini menjadi modal dasar bagi kita untuk membangun Kotim yang kita cintai ini,” harapnya.
(dev/matakalteng)




















Discussion about this post