SAMPIT – Hingga saat ini, Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih terendam air dengan ketinggian dikisaran 1 meter lebih. Meski lingkungan terendam air, warga tetep melakukan aktivitasnya. Seperti yang dilakukan bocah berusia 9 tahun yang rela menerjang banjir berjualan pentol keliling desa.
“Iya, ulun (saya) jualan pentolnya menggunakan jukung (perahu dayung ukuran kecil) keliling kampung setiap sore,” kata Dina, Jumat 8 Oktober 2022.
Bocah yang masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD) itu terlihat mendorong jukung dengan jalan kaki di ketinggian air sedadanya. Sesekali ia juga berenang untuk menarik jukung yang bermuatan dua toples berisikan pentol dan saos.
“Kalau airnya kada (tidak) dalam, ulun jalan kaki, kalau lumayan dalam, bekunyung (berenang). Tapi kalau capek kami naik ke jukung,” ujarnya.
Meski dalam kondisi berat melangkah, baju basah kuyup, dia tetap semangat menawarkan dagangannya kepada warga. Sekalipun hasil yang diperoleh dari jualan tersebut tidak begitu besar.
Dirinya hanya menerima sebesar Rp 15 ribu setiap pentol habis terjual. Cemilan yang ia jual ini bukan buatan orangtuanya, melainkan milik tetangga. “Ulun ni cuma disuruh, kalo habis jualan dibari Rp 15 ribu lawan tetangga ulun yang meolah pentol ni (saya cuman disuruh jualan, jika habis maka diupah Rp 15 ribu dari tetangga pembuat pentol ini,” ungkapnya.

Ia rela menerjang banjir berjualan pentol agar bisa menabung untuk keperluan masuk sekolah, sehingga tidak membebani orangtuanya nanti. “Mumpung sekolah libur akibat banjir, uangnya ditabung untuk sekolah nanti,” imbuhnya.
Masyarakat Hanjalipan terlihat terbiasa dengan kondisi sekarang ini. Karena banjir telah terjadi selama lima pekan. Selain itu, hampir setiap musim hujan bencana tersebut melanda.
Kekhawatiran akan keselamatan warga selalu terlintas dibenak Kepala Desa Hanjalipan, Sarpansyah. Dirinya selalu mengimbau kepada warga, terutama yang memiliki anak kecil untuk terus diawasi. “Memang rata-rata anak disini bisa berenang, tapi tetap orangtua harus mengawasi. Jangan sampai hal tidak diinginkan terjadi,” ungkapnya.
Dirinya juga sering mengingatkan kepada Dina agar lebih hati-hati saat berjualan pentol dengan kondisi air yang tinggi. “Kalau kenapa-kenapa, saya bilang cepat minta tolong. Tapi kami berharap semua warga disini baik-baik saja. Itu harapan kami,” tutupnya.
(dev/matakalteng.com)





















Discussion about this post