PALANGKA RAYA – Persoalan kesejahteraan guru swasta di Kalimantan Tengah kembali mencuat. Jeli Sri Pahlawanti, guru SMK swasta di Palangka Raya, mengungkapkan masih banyak rekan seprofesinya yang menerima honor sangat minim, bahkan hanya Rp10 ribu per jam.
Menurut Jeli, kondisi itu dialami guru honor non-Guru Tidak Tetap (non-GTT) yang tidak mendapat alokasi anggaran dari pemerintah daerah. Besaran honor sepenuhnya bergantung pada kemampuan sekolah masing-masing.
“Kalau guru GTT masih ada anggaran dari pemerintah. Tapi bagi guru honor di luar itu, ada yang hanya dibayar Rp10 ribu per jam. Semuanya tergantung kebijakan sekolah,” jelas Jeli kepada wartawan, Rabu 24 September 2025.
Ia menambahkan, bagi guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik, setidaknya ada tunjangan sertifikasi dari pemerintah pusat. Namun, bagi guru honor biasa yang belum sertifikasi, penghasilan yang diterima sangat jauh dari layak.
“Guru swasta sering merasa ketidakadilan. Padahal sama-sama mengajar, tapi perlakuan berbeda antara guru negeri dan guru swasta. Ini yang membuat kami merasa tidak adil,” tegasnya.
Jeli berharap pemerintah memberi perhatian serius terhadap nasib guru swasta. Menurutnya, pemerataan kesejahteraan tenaga pendidik mutlak diperlukan agar kualitas pendidikan di Kalteng dapat meningkat secara merata, tanpa membeda-bedakan status sekolah.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post