JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan bahwa sesuai arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, kegiatan rapat koordinasi (rakor) mingguan inflasi perlu diteruskan. Menurut Tito, kegiatan tersebut sangat membantu dalam menjaga stabilitas inflasi di Indonesia. Pada Oktober 2024, inflasi Indonesia tercatat sebesar 1,71% secara tahunan (year-on-year), dengan kenaikan bulanan (month-to-month) yang terbilang rendah, hanya sebesar 0,08%.
“Ini merupakan angka yang cukup baik, mengingat kita masih menghadapi situasi global yang dinamis dan dapat mempengaruhi inflasi di Indonesia,” ujar Mendagri Tito dalam rakor tersebut. Tito juga menekankan bahwa dinamika suplai dan permintaan global berpengaruh besar terhadap inflasi di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Komoditas yang mendapat perhatian khusus dari Badan Pusat Statistik (BPS) adalah bawang merah, bawang putih, minyak goreng, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Sementara itu, harga beras relatif stabil. Berdasarkan laporan BPS, pada minggu ketiga November 2024, Indeks Perkembangan Harga (IPH) di Nusa Tenggara Barat (NTB) tercatat 1,20%, dan di Yogyakarta sebesar 0,91%. Hal ini menunjukkan adanya fluktuasi harga yang perlu mendapatkan perhatian dan intervensi dari pemerintah daerah.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa dalam tiga tahun terakhir, komponen harga bergejolak pada bulan November sering mengalami inflasi. Pada 2021 dan 2023, inflasi tercatat, sementara pada 2022 terjadi deflasi. Komoditas yang sering menyumbang inflasi di bulan November adalah telur, ayam ras, cabai merah, dan beras. Pudji juga menambahkan bahwa harga-harga komoditas di luar Pulau Jawa dan Sumatera mengalami kenaikan yang cukup signifikan, mencapai 4,06%, dengan daging ayam ras dan bawang merah sebagai komoditas utama penyumbang inflasi.
Sejak awal November, harga bawang merah mengalami kenaikan sebesar 18,23% dibandingkan Oktober 2024, dan hampir 90% wilayah Indonesia tercatat mengalami kenaikan harga bawang merah. Harga bawang putih juga naik sebesar 1,97%, dengan 59,44% wilayah Indonesia mengalami kenaikan harga. Harga minyak goreng meningkat sebesar 1,26%, dan 57,22% wilayah Indonesia turut merasakan dampaknya.
Sementara itu, harga beras mengalami penurunan sebesar 0,18%, meskipun 29,72% wilayah Indonesia mengalami penurunan harga beras, namun sejumlah wilayah lain masih mengalami kenaikan harga beras dibandingkan minggu sebelumnya.
Dengan perkembangan ini, Tito menegaskan perlunya langkah strategis untuk terus memantau dan mengintervensi harga-harga kebutuhan pokok demi menjaga kestabilan ekonomi Indonesia.
(vi/matakalteng)






















Discussion about this post