PALANGKA RAYA – Dinamika politik seringkali menjadi ujian bagi kesatuan dan keharmonisan sebuah komunitas, terutama ketika agenda politik bersinggungan dengan nilai-nilai adat dan keberlangsungan budaya suatu suku.
Sejumlah warga Dayak menggelar aksi demo di depan kantor Sekretariat Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah, Jl. RTA Milono, Palangka Raya, Kamis 31 Oktober 2024. Dalam orasi yang disampaikan, tuntutan utama para demonstran adalah meminta Agustiar Sabran, Ketua DAD Kalteng, untuk sementara waktu mengundurkan diri dari jabatannya.
Alasan utamanya adalah kekhawatiran bahwa penggunaan DAD Kalteng sebagai alat politik oleh Agustiar Sabran, yang saat ini juga mencalonkan diri sebagai gubernur dalam Pilkada Kalteng 2024, dapat merusak kesucian dan kemerdekaan lembaga adat tersebut.
Salah satu dari para demonstran, Kornelis, dengan tegas menyampaikan keinginan tersebut dengan penuh kesopanan dan kesantunan. Ia menegaskan pentingnya kehormatan dan harkat dari DAD Kalteng dalam mengambil langkah tersebut.
“Dengan harapan Agustiar Sabran akan dengan lapang dada melepaskan sementara jabatannya demi menjaga keutuhan dan persatuan masyarakat Dayak,” ujarnya saat berorasi. Namun, di tengah tuntutan dan ekspektasi dari para demonstran, Agustiar Sabran sendiri masih belum memberikan pernyataan resmi mengenai permintaan tersebut.
Di sisi lain, tim pendukungnya menganggap bahwa tuntutan tersebut dapat dipandang sebagai upaya untuk mempengaruhi arena politik di Kalimantan Tengah serta membatasi langkah Agustiar dalam mempertahankan nilai-nilai adat dan kepentingan masyarakat Dayak.
Pelbagai pandangan dan kepentingan yang saling bertentangan dalam situasi ini menimbulkan ketegangan yang membahayakan keharmonisan masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Dalam menghadapi tantangan ini, masyarakat Dayak diharapkan mampu menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi, menghormati perbedaan pendapat, serta tetap bersatu untuk kepentingan bersama.
(vi/matakalteng)





















Discussion about this post