SAMPIT – Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) jenjang SMA, MA, dan SMK di Kotawaringin Timur tahun ini tak sekadar ajang kompetisi, tetapi menjadi panggung ekspresi bagi ratusan pelajar dari berbagai penjuru daerah. Sebanyak 295 peserta dari 27 sekolah tampil memukau dalam 15 cabang lomba yang digelar sejak Senin 19 Mei 2025.
Dari puisi hingga film pendek, para pelajar menunjukkan betapa kaya dan berwarnanya bakat seni yang dimiliki generasi muda Kotim.
Mereka berlomba dalam cabang baca puisi, cipta lagu, cipta puisi, desain poster, film pendek, fotografi, instrumen solo gitar, jurnalistik, kreativitas musik tradisional, kriya, komik digital, menulis cerita pendek, monolog, menyanyi solo (putra dan putri), serta tari kreasi.
“FLS3N menjadi momentum bagi pelajar untuk menunjukkan potensi terbaiknya. Ini bukan hanya tentang menang, tapi bagaimana mereka mengekspresikan ide dan rasa melalui karya seni,” kata Prapti Budi Astuti selaku Kasubbag Umum dan Kepegawaian Disdik Kotim, Selasa 20 Mei 2025.
Para peserta datang dari berbagai daerah, termasuk Mentaya Hulu yang merupakan wilayah terjauh. Masing-masing membawa harapan besar menjadi duta budaya Kotim hingga ke panggung nasional.
Kepala MAN Kotim Jainuddin menilai semangat peserta tahun ini sangat luar biasa.
“Mereka menunjukkan bahwa seni adalah bagian dari pendidikan karakter. Kami berharap kegiatan ini bisa terus didukung ke depannya,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua MKKS SMA Kotim Kodarahim menyebut antusiasme pelajar membuat atmosfer FLS3N sangat hidup.
“Kami berharap juri bisa memilih yang terbaik secara objektif, dan tahun depan jumlah peserta bisa meningkat,” harapnya.
Dari sisi Kemenag, Kepala Kemenag Kotim Nur Widiantoro menekankan pentingnya pelibatan lebih luas dari semua jenis sekolah, termasuk swasta.
“Ajang seperti ini menjadi ruang tumbuh bakat yang tidak bisa tergantikan oleh pembelajaran konvensional,” katanya.
Dengan semangat keberagaman karya, FLS3N menjadi bukti bahwa seni dan sastra di kalangan pelajar masih hidup dan terus tumbuh. Ajang ini pun menjadi cerminan bahwa pendidikan tak hanya soal angka dan nilai, tapi juga tentang jiwa dan rasa.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post