SAMPIT – Ketua MKKS SMK Kabupaten Kotawaringin Timur Ahmad Arifin menyampaikan, perlu adanya soal AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) dalam sumatif yang dilaksanakan di setiap sekolah sebagai upaya peningkatan budaya literasi.
“AKM adalah soal yang mengukur kemampuan bernalar peserta didik dalam menggunakan bahasa (literasi membaca) dan matematika (numerasi). Soal AKM terdiri dari lima jenis, yaitu pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, isian singkat dan uraian,”ujarnya, Senin 21 Oktober 2024.
Karena menurutnya kondisi siswa bahkan bapak ibu guru sendiri di daerah ini pada saat pihaknya melakukan tes Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), untuk 200 siswa. Hasilnya sangat bervariatif, dari skornya yang di bawah sederhana dan paling tinggi pada kategori unggul namun hanya bisa dihitung dengan jari.
“Dan tes untuk pelajar itu hadilnya tidak jauh berbeda dengan guru bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, ini menunjukkan bahwa kita memang perlu melakukan terobosan agar literasi dapat meningkat,”tegasnya.
Dirinya berharap bahwa dari Kotim nantinya pada soal ulangan umumnya ada yang berbasis AKM yaitu dalam 40 soal misalnya bisa disisipkan 2 soal yang berbasis AKM yang memuat literasi.
“Karena budaya literasi ini akan meningkat ketika soal yang kita berikan juga mengarah ke literasi. Kalau kami, ingin mencoba Desember nanti semua guru saya wajibkan untuk menyisipkan dua soal AKM dengan jawaban 3 sampai dengan 5, berarti 6 sampai 10 soal itu sudah berbasis AKM,”bebernya.
Yaitu, untuk seluruh mata pelajaran. Jika yang mata pelajaram bahasa itu berarti AKM-nya ke arah literasi kemudian yang Matematika dan sebagainya berarti ke arah numerasi.
“Jika literasi ini dijadikan kebiasaan dan menjadi budaya di sekolah kita masing-masing. Makanya nanti saya ingin mengajak kawan-kawan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dari semua mata pelajaran berkumpul kembali untuk penulisan soal berbasis AKM,”ujarnya.
Karena lanjut Arifin, soalnya nanti jangan sampai dibuat atau diambil dari AKM tahun lalu yang konteksnya lepas dari sekolah, ia berharap soal AKM harus sesuai dengan konteks sekolah masing-masing.
“Satu konteks bisa untuk 3 sampai 5 soal, sehingga jika konteksnya familiar di lingkungan sekolah misalnya, akan menjadi soal yang menarik bagi peserta didik. Untuk itu nanti akan kita adakan pelatihan bagaimana kita mencoba membuat soal serta menjawabnya. Hal itu agar guru dan sekolah, pada saat sumatif ada memuat soal yang berbasis AKM. Mungkin cukup dua konteks untuk 6 sampai 10 soal, nanti kita akan kolaborasi lagi dalam tahun 2025,”tutupnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post