SAMPIT – Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah perwakilan Kotim-Seruyan dianggap gagal memperjuangkan aspirasi pembangunan jalan lingkar selatan. Pasalnya sudah lima tahun terakhir ini jalan tersebut tidak kunjung diperbaiki.
“Intinya kami nilai baik pemerintah daerah ataupun DPRD Kalteng wakil dari Kotim ini tidak peka dengan kondisi jalan lingkar selatan. Tahun ini alasannya efisiensi lagi artinya kita ini menyayangkan pembangunan jalan lingkar itu tidak ada,” kata Supardi salah satu sopir yang kerap melintasi jalur tersebut, Selasa 1 April 2025.
Menurutnya jika wakil rakyat asal Kotim itu punya niat baik maka tidak ada salahnya dana aspirasi mereka dilarikan untuk pembangunan jalan lingkar selatan tersebut.
“Kalaupun ada niat untuk menyelesaikan bisa saja dana aspirasi masing-masing DPRD itu diarahhkan pembangunan jalan lingkar selatan itu, tapi itulah kondisinya sekarang dan kalaupun rusak parah nanti truk-truk akan masuk Kota Sampit,” ujarnya.
Kuncoro salah satu sopir truk CPO mengakui dirinya memilih melintas di dalam Kota Sampit daripada melintasi jalan lingkar selatan karena beresiko. Kondisi jalan yang rusak itu membuat dirinya tidak yakin dan rentan membahayakan pengguna jalan dan muatannya terbalik.
“Bayangkan kita bawa muatan CPO 8 -10 ton lewat jalan rusak kalau terbalik dan lain sebagainya kami sopir juga yang kenanya oleh bos lebih baik masuk dalam kota meski jalannya pelan-pelan yang penting selamat,” tegasnya.
Dirinya awalnya berharap kepada Gubernur Kalteng terpilih ini untuk memperhatikan jalan lingkar selatan itu. Dia pun awalnya meyakini jika pemprov akan berpihak kepada pembangunan jalan itu.
“Karena waktu itu Pj Bupati Kotim di media juga berjanji tahun ini akan mulus pembangunannya oleh Gubernur tapi kenyataannya kena efisiensi. Apakah memang harus dikorbankan lagi anggaran jalan itu,” ucapnya.
Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kalimantan Tengah Shalahuddin menyampaikan, jalan Lingkar Selatan merupakan jalan provinsi yang berada di Kotim. Panjang ruas jalan tersebut 7,3 kilometer dan 1,7 kilometer di antaranya belum selesai diperbaiki.
Dalam beberapa tahun terakhir pihaknya mengupayakan peningkatan Jalan Lingkar Selatan dengan harapan bisa memperlancar arus lalu lintas di Kotim, mengingat jalan itu merupakan jalur utama bagi kendaraan berat atau angkutan.
Keterbatasan anggaran membuat pengerjaan jalan Lingkar Selatan tidak bisa dilakukan sekaligus.
Setelah dilakukan pemeliharaan pada 2024 lalu, ditargetkan pada 2025 ini perbaikan jalan tersebut bisa tuntas. Namun, adanya kebijakan anggaran mengharuskan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melakukan penyesuaian terhadap pos-pos anggaran. Salah satunya anggaran perbaikan jalan Lingkar Selatan yang semula dianggarkan Rp30 miliar menjadi Rp3,5 miliar.
“Anggaran Rp3,5 miliar itu untuk pemeliharaan, pengerasan agregat saja tidak sampai pengaspalan. Anggaran itu bersumber dari APBD Provinsi Kalimantan Tengah,” tandasnya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post