SAMPIT – Ketua Komisi III DPRD Kotawaringin Timur Dadang Siwanto menilai, salah satu tantangan untuk tenaga kerja lokal bisa berkarir di sektor perusahaan besar di wilayah Kotim yakni penyesuaian budaya kerja dan kemampuan akademik yang masih rendah.
“Hal ini sendiri tentunya menjadi hambatan untuk putra dan putri daerah tenaga kerja lokal untuk bisa bersaing dan menguasai jabatan-jabatan penting di sektor swasta di wilayah Kotim,”ujarnya, Jumat 7 Februari 2025.
Hal ini terlihat lanjutnya, pada saat pihaknya melakukan kunjungan DPRD Kotim bersama dengan sejumlah instansi di beberapa perusahaan besar di Kotim belum lama ini.
Sebagai contoh ujarnya, dari beberapa perusahaan yang ada di Kotim persoalannya yakni masih ditemukan adanya tenaga kerja lokal yang tidak mau meningkatkan kemampuan diri.
“Kondisi ini yang terjadi masih ada sikap tenaga kerja lokal kita ini kurang mau meningkatkan atau mengaupgrde kemampuan diri, bahkan lebih ekstrim ada yang mengatakan bahwa dia tidak perlu meningkatkan SDM karena ini adalah tanah milik keluarganya tempat berdirinya badan usaha itu,”beber Dadang.
Untuk itu, Ia mendorong dunia usaha melakukan penguatan terhadap SDM karyawannya. Terutama untuk masyarakat lokal sehingga kedepannya pemberdayaan tenaga kerja lokal ini tidak hanya berimplikasi ke penyerapan tenaga kerja tetapi juga warga lokal bisa mendapatkan poisisi yang strategis dalam sebuah perusahaan yang ada di Kotim.
Tambahnya, dirinya melihat saat meninjau pelaksanaan K3 di pelabuhan bulking milik Wilmar Nabati di Pelabuhan Bagendang Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Kami juga melihat pelaksanaan bulan K3 dirangkai dengan pemeriksaan kesehatan berjalan di pekerja tersebut. Diperusahaan itu mereka mendapati tenaga kerja lokal sudah diberdayakan sebagaimana perintah dari Perda setempat yakni 60 persen tenaga kerja lokal.
Sementara itu Human Resource Development Wilmar Nabati wilayah Bagendang, David Hamzah menyebutkan saat ini komitmen mereka untuk memberdayakan tenaga kerja lokal bisa dibuktikan dengan jumlah yang ada di pelabuhan tersebut.
“Kita sudah merekrut dan memberdayakan tenaga kerja lokal ini diatas 60 persen dan yang bekerja di pelabuhan ini ada sekitar 50 orang dan mereka adalah warga yang tinggal disekitar pelabuhan ini,”kata David
Meski begitu katanya mereka hanya menerima tenaga kerja dari diploma dan sarjana. Hal ini juga untuk memudahkan peningkatan jenjang karir dari tenaga kerja lokal itu sendiri kedepannya.
“Jadi kami menerima minimal diploma dan sarjana karena nanti kedepannya mereka yang ada ini akan terus bisa berkarir di pelabuhan ini, tidak selamanya di posisi yang sekarang saja, yang sebelumnya dari mandor bisa naik ke level lebih tinggi”jelasnya.
Dijelaskannya, kualifikasi pendidikan sangat penting demi peningkatan karir sehingga warga lokal tidak hanya menjadi buruh kasar di pelabuhan itu kedepannya.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post