SAMPIT – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kotawaringin Timur (Kotim) menilai, petani rotan di daerah ini telah kalah di tengah gempuran perkebunan kelapa sawit yang sekarang ini menjamur di setiap kecamatan hingga desa.
“Produksi andalan masyarakat yang sempat booming ini terancam habis diganti dengan tanaman kelapa sawit. Padahal banyak masyarakat yang bergantung hidup dengan membudiyakan rotan,”kata Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kotim, Ary Dewar, Jumat 16 Juni 2023.
Menurutnya, hal ini disebabkan sekarang harga karet cenderung tidak pernah membaik sehingga petani merugi. Bahkan tidak jarang juga para petani rotan ini memilih meninggal profesinya dan mencoba mencari peruntungan menjadi pegawai di perkebunan kelapa sawit.
“Kalau saya prediksi 10 tahun kedepan karet kita, khususnya di Kotim akan habis dan sudah sulit dicari, masalahnya karena petani- petani sudah banyak yang menebang pohon karetnya dan mengganti tanaman yang lebih menjanjikan dan produktif, seperti kelapa sawit,” tegasnya.
Dia menyebutkan karet sejatinya salah satu produksi unggulan di Kotim, karet yang dihasilkan ini diekspor hingga ke mancanegara, salah satunya untuk bahan dasar kebutuhan membuat berbagai barang jadi seperti ban dan lainnya.
“Namun sayangnya harga karet di daerah kita tidak pernah membaik, janji pemerintah pusat untuk menaikan harga itu dengan berbagai strategi tidak membuahkan hasil. Jauh sekali dibanding komoditas lain, saat ini karet masih di bawah angka Rp10 ribu per kilo gram, padahal idealnya sudah harga Rp15 ribu jika mengimbangi kebutuhan hidup di daerah,” pungkasnya.
(dia/matakalteng.com)






















Discussion about this post