SAMPIT – Produksi minyak goreng di PT Sukajadi Sawit Mekar (SSM) kawasan Bagendang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut membuat perusahaan memprioritaskan seluruh pasokan Minyakita kepada Bulog guna menjaga ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat.
Manager PT Sukajadi Sawit Mekar, Zul Hendro, mengatakan penurunan produksi terjadi karena perusahaan menyesuaikan kuota ekspor yang berlaku saat ini. Meski demikian, kebutuhan pasar domestik tetap menjadi prioritas melalui program Domestic Market Obligation (DMO).
“Memang produksi ada menurun sedikit karena kami menyesuaikan kuota ekspor. Dari awal bulan ini sampai bulan Juni, kuota yang ada lebih banyak kami alokasikan ke Bulog karena produksi kami sedang menurun,” ujarnya saat mendampingi kunjungan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kotim di pabrik PT SSM, Bagendang, Jumat 12 Juni 2026.
Ia menjelaskan, penurunan produksi diperkirakan mencapai sekitar lima persen dibanding kondisi sebelumnya. Menurutnya, kebijakan DMO mengharuskan perusahaan memenuhi kebutuhan dalam negeri sebelum dapat melakukan ekspor produk sawit.
“Minyakita ini bagian dari kewajiban DMO. Jadi kalau kami ingin melakukan ekspor, ada kewajiban untuk memenuhi kuota kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu,” katanya.
Zul Hendro mengungkapkan, sebelum produksi menurun, perusahaan mampu menjalankan produksi hingga sekitar 75 persen dari kapasitas yang tersedia. Saat itu, distribusi produk tidak hanya melalui Bulog, tetapi juga melalui jaringan distribusi lainnya yang melayani wilayah Kotim dan Kalimantan Tengah.
“Nah sebelumnya produksi kami sudah mencapai sekitar 75 persen. Waktu itu distribusi tidak hanya ke Bulog, tetapi juga ada melalui wahana distribusi yang melayani pasar di Kotim dan beberapa daerah lainnya di Kalimantan Tengah,” jelasnya.
Namun sejak awal Juni, perusahaan memutuskan menghentikan sementara penyaluran kepada distributor lain dan mengarahkan seluruh alokasi Minyakita kepada Bulog.
“Karena kuota produksi kami turun, saat ini kami tidak memberikan pasokan ke wahana distribusi. Semuanya kami fokuskan ke Bulog dulu. Dari tanggal 1 Juni sampai sekarang seluruh alokasi Minyakita kami berikan ke Bulog,” tegasnya.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap dapat dipenuhi melalui jalur distribusi resmi pemerintah. Dengan pola distribusi tersebut, perusahaan berharap ketersediaan Minyakita di pasar tetap terjaga meskipun produksi mengalami penyesuaian.
Ia juga menjelaskan bahwa industri sawit saat ini sedang menghadapi sejumlah penyesuaian pasar, termasuk perubahan permintaan ekspor dan kebijakan energi nasional yang mendorong peningkatan penggunaan biodiesel.
“Saat ini ada penyesuaian pasar ekspor. Selain itu ke depan ada kebijakan peningkatan penggunaan biodiesel sehingga tentu akan memengaruhi pola distribusi dan pemanfaatan produk sawit,” ujarnya.
Meski produksi mengalami penurunan, Zul Hendro memastikan operasional perusahaan tetap berjalan normal dan pasokan untuk kebutuhan domestik masih menjadi prioritas utama.
Ia berharap distribusi melalui Bulog dapat membantu menjaga stabilitas pasokan dan harga minyak goreng di tengah upaya pengendalian inflasi yang dilakukan pemerintah daerah.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post