PALANGKA RAYA – Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Tengah memastikan kondisi inflasi daerah masih berada dalam batas aman meski sempat mencatat angka yang cukup tinggi pada Oktober. Deputi Kepala Perwakilan BI Kalteng, Ardian Pangestu, menyebut bahwa secara tahunan (year-on-year), inflasi tetap terkendali dalam kisaran 2,5 ± 1 persen, sesuai target nasional.
“Memang inflasi Kalteng sempat menanjak di Oktober, namun secara keseluruhan masih terkendali. Secara tahunan kita masih dalam jalur target pemerintah,” ujar Ardian, Selasa 18 November 2025. Dia menjelaskan, terdapat dua komoditas utama yang menjadi penyumbang inflasi bulan Oktober di Kalimantan Tengah.
“Pertama, emas perhiasan, seiring kenaikan harga global. Kedua, bahan pangan, khususnya karena meningkatnya aktivitas program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membeli bahan baku langsung dari pasar, sehingga pasokan di tingkat pedagang berpengaruh,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Bank Indonesia mendorong solusi kolaboratif antara pelaku usaha dan produsen pangan. “Ke depan, kita bisa menghubungkan pelaku usaha besar dengan produsen langsung agar pembelian dalam jumlah besar tidak mengganggu ketersediaan untuk masyarakat umum di pasar tradisional,” ujar Ardian.
Terkait koordinasi kebijakan pangan, Bank Indonesia juga telah menjalin komunikasi intensif dengan Bulog. “Dari hasil pembicaraan, pihak Bulog menyatakan siap membantu menyalurkan beras jika dibutuhkan. Kami tinggal menyesuaikan teknisnya, agar stok di pasaran tetap terjaga,” katanya.
Selain menjaga stabilitas harga, BI Kalteng juga tengah menjajaki kolaborasi program MBG dengan Bulog, mengingat lembaga tersebut memiliki jaringan dan kapasitas distribusi yang luas di wilayah Kalimantan. Lebih jauh, Ardian mengungkapkan pihaknya kini mendorong pengembangan sektor peternakan ayam lokal sebagai bagian dari rantai pasok pangan daerah.
Salah satu model yang tengah digagas adalah kemitraan dengan pesantren yang memiliki usaha ayam mandiri. “Rencananya akan dibuat sistem panen bergilir. Misalnya, minggu ini pesantren A panen, minggu depan pesantren B, dan seterusnya. Hasilnya langsung disalurkan ke pelaku industri atau pembeli besar,” jelas Ardian.
Ia berharap pola seperti ini dapat menjadi model pemberdayaan ekonomi lokal berbasis komunitas yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. “Intinya, pengendalian inflasi bukan hanya soal harga, tapi juga bagaimana membangun sistem pasok yang adil, terintegrasi, dan memberdayakan masyarakat,” tegas Ardian.
(nra/matakalteng)






















Discussion about this post