PALANGKA RAYA – Merchant Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) semakin kencang tumbuh di Kalimantan Tengah (Kalteng). Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalteng, Taufik Saleh mengungkapkan, bahwa Kabupaten Barito Selatan menjadi daerah dengan jumlah merchant QRIS terbanyak pada tahun 2023. Meskipun demikian, dia juga menyebut bahwa masih ada kabupaten yang minim penggunaan merchant QRIS, seperti di Kabupaten Sukamara.
“Data menunjukkan bahwa jumlah merchant QRIS di Kalteng pada Januari 2024 mencapai 271.344. Di mana QRIS paling banyak digunakan dari sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM),” ujarnya, Selasa, 20 Februari 2024.
Meskipun demikian, Taufik menambahkan adopsi digitalisasi di wilayah Kalteng juga menimbulkan beberapa tantangan, terutama bagi perbankan konvensional. Menurut Taufik, intermediasi perbankan (Loan to Deposit Ratio/LDR) mengalami penurunan dari 116,51 persen menjadi 112,02 persen pada Desember 2023.
“Hal ini mengindikasikan bahwa semakin banyak masyarakat dan bisnis yang beralih dari bank konvensional dengan produk-produk tunai ke transaksi non-tunai menggunakan QRIS,” imbuhnya.
Namun, meskipun adopsi digitalisasi semakin meningkat, kebutuhan uang tunai di masyarakat tetap kuat. Taufik menyatakan bahwa hal ini tidak menghambat pemanfaatan digitalisasi. Sebaliknya, Bank Indonesia terus mendorong sosialisasi dan edukasi penggunaan QRIS di wilayah Kalteng melalui intervensi untuk meningkatkan jumlah merchant QRIS di daerah-daerah yang masih terbilang kecil.
Ditegaskan Taufik, bagi UMKM di Kalteng, pertumbuhan adopsi QRIS tentu menawarkan beberapa peluang. Dalam era pandemi Covid-19, transaksi non-tunai menjadi sangat relevan dan meningkatkan daya saing bisnis.
“QRIS menawarkan solusi yang cepat, aman, dan efisien bagi bisnis kecil dan menengah untuk menerima pembayaran digital. Bank Indonesia sendiri memperkirakan pertumbuhan UMKM yang beralih ke QRIS akan terus meningkat di masa depan,” sebut Taufik.
Dalam rangka menghadapi tren ini, perbankan konvensional harus mempersiapkan diri untuk beradaptasi dengan cepat dan memberikan pilihan bagi nasabah dalam menggunakan aplikasi digital mereka. Bank-bank di Kalteng bahkan dapat menggali peluang untuk bekerja sama dengan pelaku usaha di daerah-daerah tertentu untuk mengembangkan solusi transaksi digital mereka.
“Dengan adanya sosialisasi dan edukasi yang terus dilakukan oleh Bank Indonesia, serta kesiapan perbankan dalam menghadapi tren digitalisasi, diharapkan Indonesia dapat mengembangkan sistem pembayaran non-tunai yang semakin aman, efisien, dan mudah bagi semua,” pungkasnya.
(vi/matakalteng)






















Discussion about this post