PALANGKA RAYA – Salah satu dampak yang dapat ditimbulkan akibat cuaca panas ekstrem, yaitu timbulnya kekeringan. Hal ini tentunya dapat memicu terjadinya Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Seperti yang diketahui, akibat cuaca panas yang cukup ekstrem beberapa kasus Karhutla terjadi di Kota Palangka Raya. Bahkan, berdasarkan data yang dihimpun dari BPBD Kota Palangka Raya mencatat hingga saat ini lebih dari 34 kasus Karhutla terjadi di Wilayah Kota Palanagka Raya yang sebagian besarnya terjadi pada lahan gambut yang sulit untuk dipadamkan.
Oleh sebab itu, demi meminimalisir terjadinya Karhutla, Kepala DLH Kota Palangka Raya, Achmad Zaini meminta, agar warga tidak membuka lahan dengan cara dibakar.
“Kepada warga Kota Palangka Raya sekali saya tekankan agar tidak melakukan pembakaran lahan. Sekarang ini kita dihadapkan dengan cuaca panas yang ekstrem. Jika melakukan pembakaran maka api akan mudah menyebar,” katanya, Rabu, 14 Juni 2023.
Dijelaskannya, jika pihaknya hingga saat ini terus berupaya mencegah Karhutla di Kota Palangka Raya. Upaya-upaya yang telah dilakukan antara lain menggelar pelatihan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB), mengadakan sosialisasi dan mengedukasi masyarakat terkait dampak Karhutla.
Namun demikian, lanjutnya kasus Karhutla di Palangka Raya masih saja terjadi. Menurutnya, selain karena faktor alam hal ini juga disebabkan kurangnya kesadaran warga dalam menjaga lingkungannya dan akibat adanya aktivitas pembukaan lahan dengan dibakar.
“Untuk itu, sekali lagi saya tekankan mari kita cintai dan jaga kelestarian lingkungan kita terutama dari bencana Karhutla yang tentunya sangat berdampak buruk bagi kita manusia dan ekosistem alam, salah satunya dengan tidak membuka lahan dengan pembakaran,” tutupnya.
(vi/matakalteng.com)






















Discussion about this post