NANGA BULIK – Seorang warga desa Wonorejo Kecamatan Sematu Jaya Kabupaten Lamandau claster Gowa dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan hasil uji swab. Padahal sebelumnya, yang bersangkutan juga pernah mengikuti dua kali rapid test di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Lamandau, dengan hasil keduanya negatif.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Lamandau, H Hendra Lesmana saat menggelar konferensi pers di Aula Kecamatan Sematu Jaya, Jumat 24 April 2020 malam.
“Hasil swab untuk satu dari dua warga kita (Lamandau) dengan riwayat perjalanan ke Gowa (Sulsel) terkonfirmasi positif Covid-19. Warga yang dinyatakan positif ini pernah mengikuti dua kali rapid test dengan hasil keduanya negatif,” kata Hendra Lesmana yang juga Bupati Lamandau itu.
Terkait hal itu, Hendra mengingatkan tentang pentingnya pencegahan, karena tingkat akurasi dari rapid test belum bisa dijadikan tolak ukur. “Sejak jauh-jauh hari saya ingatkan bahwa rapid tes itu hanyalah skrining awal, artinya tidak menjadi penentu. Makanya semua yang ikut rapid test saya sarankan untuk tetap melakukan isolasi mandiri meskipun hasilnya negatif,” jelas Hendra.
Dari hasil tracking sementara, lanjut Hendra, yang bersangkutan telah bersosialisasi dengan keluarga dan sanak famili setelah rapid test kedua dinyatakan negatif. “Seperti yang di sampaikan Kepala Desa Wonorejo, keluarga dan kerabat dekat yang diduga melakukan kontak dengan pasien positif covid-19 berjumlah 13 orang, dan segera kita ambil tindakan pencegahan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala desa Wonorejo Muhammad Gufran mengatakan bahwa sebelumnya yang bersangkutan telah melakukan isolasi mandiri dari pertama datang hingga pengambilan rapid test kedua.
“Namun setelah hasil rapid tes kedua hasilnya negatif, yang bersangkutan diketahui telah melakukan kontak fisik dan berkomunikasi langsung dengan keluarga dan sanak famili,” ungkap Gufran saat rakor dengan bupati.
Bahkan, lanjut Gufran, beliau (pasien potitif covid- 19) pernah menghadiri ta’ziah atau melayat orang meninggal, meskipun tidak ada kegiatan salaman atau kontak fisik.
“Sejak pertama kali kedatangan dari Gowa hingga saat ini (Jumat 24/4) yang bersangkutan berada di rumahnya selama 21 hari, sempat mengisolasi mandiri tanpa ada kontak dengan siapapun, namun setelah hasil rapid test kedua negatif, beliau mulai bersosialisasi kembali, bahkan sempat mendatangi ta’ziah ketempat orang meninggal, meskipun tanpa ada kontak fisik dengan warga,” kata Gufran.
“Kalau dengan keluarga dan kerabat dekat yang berjumlah 13 orang ada kemungkinan melakukan kontak fisik. Kita akan lakukan upaya preventif, selain isolasi terhadap 13 orang keluarganya sebagi ODP, pemeriksaan kesehatan serta pembatasan sosial terhadap seluruh warga desa tersebut juga akan kita lakukan untuk mengantisipasi penyebaran covid-19 agar tidak semakin meluas,” kata Bupati Hendra Lesmana.
Apabila ditengarai dan ditemukan warga desa selain keluarga pasien juga terkena, upaya lebih ketat lagi akn kita lakukan.
(btg/matakalteng.com)






















Discussion about this post