SAMPIT – Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas II Sampit memperkuat sinergi lintas sektor melalui Rapat Koordinasi Penyusunan Dokumen Rencana Kontingensi dan Pembentukan Forum Bandara Sehat di wilayah kerja Bandara H. Asan Sampit. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit menular maupun dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas II Sampit, dr. I Gusti Ayu Agung Darmawati, mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah menyatukan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam membangun sistem kesiapsiagaan yang terintegrasi di pintu masuk wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.
“Hari ini kami melaksanakan rapat koordinasi penyusunan dokumen rencana kontingensi sekaligus pembentukan Forum Bandara Sehat. Ini merupakan upaya sinergi dan kolaborasi bersama lintas sektor terkait, khususnya di wilayah kerja Bandara H. Asan Sampit,” ujarnya, Senin 20 Juli 2026.
Menurutnya, rapat diikuti sekitar 55 peserta secara luring dan sekitar 30 peserta lainnya secara daring. Seluruh peserta berasal dari berbagai instansi, di antaranya pengelola Bandara H. Asan Sampit, Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas, Dinas Perhubungan, serta instansi terkait lainnya.
Dalam penyusunan dokumen rencana kontingensi, masing-masing instansi membahas peran dan tanggung jawab apabila terjadi kedaruratan kesehatan, termasuk mengantisipasi masuknya wabah penyakit maupun dampak kabut asap saat musim kemarau.
“Setiap instansi memiliki tugas masing-masing. Ada Balai Kekarantinaan Kesehatan, puskesmas, rumah sakit, Dinas Kesehatan dan instansi lainnya. Semua peran itu harus terkoordinasi dengan baik agar penanganan dapat dilakukan secara cepat apabila terjadi kondisi darurat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kesiapsiagaan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan pengelola bandara, tetapi juga memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat sebagai pengguna jasa transportasi udara.
“Kami berharap seluruh stakeholder, termasuk masyarakat pengguna jasa bandara, ikut berkontribusi dalam mewujudkan Bandara Sehat. Jadi bukan hanya dokumen rencana kontingensi yang kami susun, tetapi bagaimana seluruh pihak memiliki kepedulian terhadap kesehatan di lingkungan bandara,” katanya.
Selain membentuk Forum Bandara Sehat, BKK Kelas II Sampit juga akan segera melaksanakan asesmen atau penilaian mandiri terhadap kesiapan fasilitas dan pemenuhan indikator Bandara Sehat. Hasil asesmen tersebut akan menjadi dasar untuk melengkapi berbagai persyaratan yang masih diperlukan.
“Setelah forum terbentuk, kami akan segera melaksanakan asesmen. Dari situ akan terlihat sejauh mana kesiapan bandara dan seluruh pihak terkait dalam memenuhi indikator Bandara Sehat. Kekurangan yang ada akan kami lengkapi secara bertahap,” ungkapnya.
Darmawati menargetkan Bandara H. Asan Sampit dapat diusulkan mengikuti penilaian Bandara Sehat pada tahun 2028. Menurutnya, pencapaian tersebut memerlukan proses dan komitmen bersama sehingga seluruh persyaratan dapat dipenuhi secara optimal.
“Prosesnya tidak bisa instan. Kami akan berproses bersama seluruh stakeholder agar pada tahun 2028 Bandara H. Asan Sampit siap diusulkan sebagai Bandara Sehat,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)
















Discussion about this post