SAMPIT – Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Nur Widiantoro, menyoroti semakin besarnya ancaman isolasi sosial yang dihadapi generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, kegiatan Dharmasanti Nyepi yang melibatkan pelajar, mahasiswa, serta umat Hindu dan Hindu Kaharingan menjadi salah satu sarana efektif untuk memperkuat interaksi sosial, silaturahmi, dan toleransi di kalangan masyarakat.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Dharmasanti Nyepi Tahun Baru Saka 1948 Tingkat Pelajar, Mahasiswa, serta Umat Hindu dan Hindu Kaharingan Kabupaten Kotawaringin Timur Tahun 2026 di Balai Basarah Penyang Hatampung Sampit.
“Pertama saya mengucapkan selamat dan sukses kepada saudara-saudara umat Hindu yang melaksanakan Dharmasanti ini. Kegiatan seperti ini sangat penting karena menjadi wadah silaturahmi bagi generasi muda maupun umat Hindu secara umum,” kata Nur Widiantoro, Senin 15 Juni 2026.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi yang semakin maju memang memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun di sisi lain, teknologi juga membawa tantangan tersendiri, terutama bagi anak-anak dan remaja yang semakin banyak menghabiskan waktu berinteraksi melalui perangkat digital dibandingkan dengan lingkungan sosialnya.
“Di era digital ini pelajar-pelajar kita, baik dari tingkat TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi mulai mengalami gejala terisolasi. Setelah pulang ke rumah mereka lebih banyak berinteraksi dengan telepon genggam dan teknologi dibandingkan dengan lingkungan sekitar,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena dapat mengurangi kemampuan generasi muda dalam membangun hubungan sosial, berkomunikasi secara langsung, serta memahami kehidupan bermasyarakat.
“Kadang mereka tidak lagi peduli dengan lingkungan sekitar, kurang berinteraksi dengan orang tua, dan tidak membaur dengan masyarakat. Yang dihadapi setiap hari adalah teknologi. Ini tentu memiliki dampak positif, tetapi juga ada dampak negatif jika tidak diberikan arahan yang baik,” katanya.
Nur Widiantoro menegaskan bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dan komunikasi dengan sesama. Karena itu, kegiatan keagamaan yang menghadirkan ruang pertemuan secara langsung dinilai sangat penting untuk menjaga keseimbangan tersebut.
“Bagaimanapun manusia harus bersosialisasi dan hidup bermasyarakat. Melalui Dharmasanti ini ada pesan yang kuat tentang pentingnya bertemu, bersilaturahmi, saling berbagi pengalaman, dan mempererat persaudaraan,” ujarnya.
Selain memperkuat hubungan sosial, ia menilai kegiatan Dharmasanti juga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai toleransi di tengah masyarakat yang majemuk.
“Yang kedua adalah terciptanya toleransi. Kita belajar menghargai mereka yang berbeda keyakinan dan berbeda agama. Dengan begitu kita dapat hidup rukun, damai dan bersatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.
Menurutnya, toleransi menjadi modal penting bagi masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, budaya, dan agama. Karena itu, nilai tersebut harus terus ditanamkan kepada generasi muda sejak dini.
“Kerukunan yang sudah terbangun dengan baik harus terus dijaga. Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, tetapi justru menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan,” ujarnya.
Nur Widiantoro juga menyebut kegiatan Dharmasanti dapat memberikan ketenteraman batin bagi para peserta sekaligus memperkuat keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Melalui kegiatan ini diharapkan tercipta ketenangan dalam diri anak-anak kita sehingga mereka semakin taat menjalankan ajaran agamanya, meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya,” katanya.
Sebagai lembaga yang membina seluruh umat beragama di Kotim, Kemenag berharap kegiatan Dharmasanti tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi benar-benar mampu menjadi sarana pembinaan umat dan pembentukan karakter generasi muda.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan setiap tahun. Mari tingkatkan silaturahmi, jaga toleransi, dan perkuat iman kepada Tuhan. Apa yang menjadi kewajiban dalam agama hendaknya dilaksanakan dengan baik sehingga kehidupan masyarakat tetap harmonis dan damai,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)



















Discussion about this post