SAMPIT – Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengeluarkan imbauan kepada seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) menyusul meningkatnya jumlah kasus di wilayah tersebut sepanjang 2026.
Pemerintah daerah menilai diperlukan langkah cepat dan terpadu guna mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD melalui Gerakan Bersama Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kotim Nugroho Kuncoro Yudho menyampaikan hingga 18 Mei 2026 tercatat sebanyak 84 kasus DBD di Kotim. “Total kasus tahun ini sampai 18 Mei 2026 sebanyak 84 kasus, terdiri dari DBD sebanyak 53 kasus, DSS satu kasus dan DD atau tersangka DBD sebanyak 30 kasus,” kata Nugroho Kuncoro Yudho, Sabtu 23 Mei 2026.
Peningkatan kasus tersebut membuat Dinkes Kotim memperkuat langkah antisipasi di seluruh kecamatan dengan mengajak masyarakat rutin melaksanakan Gerakan PSN 3M Plus minimal satu kali dalam seminggu. “Mengingat meningkatnya angka kejadian kasus Demam Berdarah Dengue di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur, maka Gerakan Bersama Pemberantasan Sarang Nyamuk 3M Plus harus segera dilaksanakan,” ujarnya.
Menurutnya, pengendalian DBD tidak cukup hanya mengandalkan fogging atau pengasapan, tetapi harus dimulai dari pemberantasan jentik nyamuk di lingkungan rumah dan permukiman warga. “Diperlukan kerja sama dalam penguatan dukungan pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan dan swasta dalam kewaspadaan kejadian luar biasa penyakit DBD melalui pelaksanaan Gerakan Bersama Pemberantasan Sarang Nyamuk 3M Plus,” katanya.
Adapun langkah utama dalam Gerakan PSN 3M Plus meliputi menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Selain itu, masyarakat juga diminta melaksanakan upaya tambahan atau “Plus” seperti menaburkan bubuk larvasida, memelihara ikan pemakan jentik, menanam tanaman pengusir nyamuk seperti sereh dan lavender, hingga menggunakan obat anti nyamuk dan kelambu.
“Upaya tambahan ini penting untuk menekan perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD,” jelas Nugroho. Dinkes Kotim juga meminta seluruh wilayah meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi KLB DBD, terutama memasuki musim penghujan yang menjadi periode rawan peningkatan kasus. Selain itu, pemerintah turut mengoptimalkan peran Tim Penggerak PKK, kader kesehatan, tokoh masyarakat, sekolah hingga media lokal dalam sosialisasi dan pelaksanaan PSN di lingkungan masing-masing.
“Masyarakat harus ikut aktif karena pemberantasan sarang nyamuk tidak bisa hanya dilakukan pemerintah. Semua harus terlibat,” tegasnya. Dinkes juga meminta pemantauan dan evaluasi berkala dilakukan hingga tingkat desa dan kelurahan. Jika ditemukan lonjakan kasus, laporan diminta segera disampaikan secara berjenjang kepada Dinas Kesehatan Kotim.
Secara nasional, Kementerian Kesehatan RI sebelumnya juga mengingatkan adanya peningkatan kasus DBD di sejumlah daerah Indonesia akibat perubahan cuaca ekstrem dan tingginya curah hujan yang memicu berkembangnya populasi nyamuk Aedes aegypti. Pemerintah pusat bahkan terus mendorong penguatan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik untuk memutus rantai penularan penyakit tersebut.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, Kalimantan Tengah termasuk salah satu daerah yang tetap perlu meningkatkan kewaspadaan karena pola penyebaran DBD cenderung meningkat saat pergantian musim dan kondisi lingkungan yang masih banyak terdapat genangan air. Dinkes Kotim berharap dengan keterlibatan seluruh masyarakat melalui Gerakan PSN 3M Plus secara rutin, kasus DBD di wilayah tersebut dapat ditekan dan potensi terjadinya KLB dapat dicegah sejak dini.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post