SAMPIT – Banjir yang melanda Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terus meluas dan menyebabkan sejumlah akses jalan desa terputus hingga aktivitas sekolah terganggu. Pemerintah kecamatan bahkan terpaksa meliburkan sementara tiga sekolah dasar karena ruang belajar mulai terendam air.
Camat Mentaya Hulu, Edison mengatakan, kondisi banjir kali ini berbeda dibanding biasanya karena dipicu pertemuan debit Sungai Mentaya dan Sungai Kuayan yang sama-sama mengalami kenaikan.
“Kalau biasanya hanya Sungai Mentaya yang naik, dampaknya tidak terlalu besar. Tetapi sekarang Sungai Kuayan dan Sungai Mentaya sama-sama naik sehingga terjadi pertemuan air pasang yang membuat banjir cukup lama surutnya,” kata Edison, Selasa 19 Mei 2026.
Ia menjelaskan, banjir sudah berlangsung sekitar satu minggu dan hingga kini ketinggian air masih terus mengalami kenaikan secara perlahan. Bahkan dalam beberapa hari terakhir debit air kembali naik sekitar 20 sentimeter.
Menurut Edison, banjir di wilayahnya sebagian besar merupakan banjir kiriman dari daerah hulu seperti Kecamatan Antang Kalang dan Telaga Antang.
“Walaupun di Mentaya Hulu tidak hujan, kalau di daerah atas hujan maka kita tetap kena dampaknya karena posisi kita berada di persimpangan aliran sungai,” ujarnya.
Berdasarkan laporan kondisi bencana banjir Kecamatan Mentaya Hulu tahun 2026, sejumlah desa mulai terdampak genangan. Di Desa Kawan Batu, ketinggian air awalnya mencapai 30 sentimeter pada 16 Mei 2026 dan meningkat menjadi 50 sentimeter pada 18 Mei 2026. Kenaikan debit air tersebut menyebabkan satu fasilitas umum berupa sekolah dasar dan dua rumah warga mulai terdampak banjir.
Sementara di Desa Tumbang Sapiri, debit air dilaporkan mencapai 50 sentimeter meski belum merendam rumah warga.
Kondisi paling parah terjadi di Kelurahan Kuala Kuayan. Genangan air mencapai sekitar 30 hingga 85 sentimeter dari permukaan jalan dan mulai masuk ke lantai rumah warga dengan ketinggian sekitar lima sentimeter.
Sedikitnya 37 rumah warga dilaporkan terdampak dan beberapa fasilitas umum mulai tergenang, di antaranya SDN 2 Kuala Kuayan, SDN 3 Kuala Kuayan dan Masjid Hidayatul Iman.
“SDN 2 dan SDN 3 sudah terendam sampai lantai sekolah sehingga kami instruksikan untuk diliburkan sementara. Ada juga SD lain yang halaman sekolahnya mulai tergenang,” jelas Edison.
Ia menyebutkan, hingga saat ini terdapat tiga sekolah dasar yang diliburkan sementara karena dikhawatirkan membahayakan keselamatan siswa.
“Karena anak-anak SD masih kecil, jadi kita khawatir kalau tetap dipaksakan sekolah dalam kondisi banjir,” katanya.
Selain sekolah, sejumlah ruas jalan desa juga mulai rusak dan terputus akibat tingginya debit air, terutama di Desa Tanjung Jariangau, Desa Bawan hingga Kelurahan Kuala Kuayan.
“Yang paling parah saat ini di jalur Desa Tanjung Jariangau. Jalan desa ada yang putus sehingga akses masyarakat mulai terganggu,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah kecamatan bersama Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) telah menyiapkan jalur alternatif dengan memanfaatkan akses jalan milik perusahaan perkebunan PT Tunas Agro Subur Kencana (TASK) 2.
Melalui kesepakatan bersama manajemen perusahaan, masyarakat diperbolehkan melintas menggunakan akses Pos 4 Afdeling 4 menuju Pos 8 Afdeling 5 selama masa banjir berlangsung.
“Untuk masyarakat, kendaraan emergency, angkutan sembako, travel dan kebutuhan pokok lainnya diperbolehkan melintas sehingga transportasi masyarakat masih aman,” terang Edison.
Sementara untuk angkutan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, perusahaan memberlakukan pengaturan jam operasional khusus agar tidak mengganggu aktivitas warga.
Angkutan TBS hanya diperbolehkan melintas pukul 10.00 hingga 12.00 WIB dalam kondisi bermuatan dan pukul 19.00 hingga 21.00 WIB untuk kendaraan kosong. Selain itu kendaraan wajib menggunakan penutup muatan, berjalan secara konvoi dan dibatasi maksimal tujuh ton.
Kesepakatan penggunaan jalan alternatif tersebut berlaku sementara hingga kondisi banjir dinyatakan surut.
“Kalau banjir sudah selesai, maka akses itu akan kembali ditertibkan dan masyarakat kembali menggunakan jalan desa seperti biasa,” katanya.
Meski sejumlah akses jalan terendam, Edison memastikan hingga saat ini belum ada warga yang mengungsi karena mayoritas rumah masyarakat di bantaran sungai berbentuk rumah panggung.
“Untuk sementara belum ada pengungsian karena masyarakat di sini memang sudah terbiasa menghadapi banjir. Rumah mereka rata-rata rumah panggung,” ujarnya.
Namun pemerintah kecamatan tetap berkoordinasi dengan tenaga kesehatan dan BPBD Kotim untuk mengantisipasi kemungkinan banjir semakin meluas.
“Kalau sewaktu-waktu ada warga yang harus dievakuasi, lokasi pengungsian sudah disiapkan di daerah yang lebih tinggi,” katanya.
Di tengah bencana banjir yang melanda, Edison mengungkapkan ada sisi lain yang justru dimanfaatkan masyarakat, yakni meningkatnya hasil tangkapan ikan saat debit sungai naik.
“Kalau banjir seperti ini masyarakat biasanya ramai mencari ikan seluang. Bahkan ada yang bisa dapat satu ember dalam sekali tangkap,” ujarnya.
Menurutnya, warga memasang alat penangkap ikan di sepanjang jalan yang terendam banjir sehingga selain menghadapi musibah, masyarakat juga memperoleh tambahan penghasilan dari hasil tangkapan ikan musiman tersebut.
(dia/matakalteng)






















Discussion about this post