SAMPIT – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai memetakan cabang olahraga (cabor) yang dinilai berpotensi besar menyumbang medali pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Tengah 2026 di Pangkalan Bun. Salah satu perhatian utama diarahkan pada cabor non terukur seperti pencak silat, karate, dansa hingga breakdance.
Sekretaris Umum KONI Kotim, Huzaifah mengatakan, sejauh ini semangat dan motivasi atlet dari berbagai cabor dinilai cukup tinggi dalam mempersiapkan diri menghadapi Porprov mendatang.
“Kami sudah melakukan peninjauan setiap kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh cabor-cabor, kemarin taekwondo, aquatik dan sekarang IPSI. Pada prinsipnya kami melihat motivasi untuk persiapan Porprov itu sangat tinggi dari semua cabor yang ada,” kata Huzaifah, Senin 11 Mei 2026.
Menurutnya, hingga saat ini KONI Kotim juga belum menerima informasi terkait atlet potensial yang berpindah atau membela daerah lain pada Porprov nanti. Hal tersebut menjadi sinyal positif bagi Kotim dalam menjaga kekuatan atlet yang dimiliki.
“KONI belum menerima informasi berkenaan atlet yang berpotensi hijrah atau mutasi ikut ke wilayah lain. Sementara kami amati atlet yang ada di masing-masing cabor itu merupakan atlet yang mempunyai kemampuan untuk berlaga di Porprov 2026,” ujarnya.
Huzaifah menjelaskan, sebagian besar cabor di Kotim saat ini sudah mulai melakukan proses seleksi atlet. Bahkan, sekitar 75 persen cabor disebut telah menjalankan tahapan penjaringan atlet melalui kejuaraan maupun seleksi internal.
“Yang pertama sudah melakukan seleksi hampir 75 persen. Kalau ada cabor seperti catur ikut lomba, itu juga bagian dari seleksi,” katanya.
Ia mengatakan, KONI kini mulai memfokuskan perhatian pada cabor non terukur karena dinilai memiliki peluang besar dalam mendulang medali. Berbeda dengan olahraga terukur seperti sepak bola atau atletik yang hasilnya dapat dihitung secara pasti, olahraga non terukur lebih bergantung pada penilaian juri.
“Kita nanti memfokuskan antara olahraga terukur dan tidak terukur. Olahraga tidak terukur seperti silat, dansa, breakdance, karate dan sebagainya itu menjadi fokus perhatian kita,” tegasnya.
Menurut Huzaifah, cabor non terukur justru bisa menjadi lumbung medali apabila persiapan atlet dan strategi pembinaan dilakukan maksimal. Ia mencontohkan cabang olahraga drumband yang memiliki banyak nomor pertandingan sehingga berpotensi menyumbang medali dalam jumlah besar.
“Siapa tahu dengan olahraga tidak terukur itu kita bisa meraih medali lebih banyak lagi,” ujarnya.
Selain persiapan teknis atlet, KONI Kotim juga masih menunggu proses lanjutan terkait anggaran pembinaan olahraga. Saat ini, KONI disebut tengah memasuki tahap kedua pendaftaran atlet Porprov.
Huzaifah menyebut jumlah atlet yang didaftarkan Kotim pada tahap pertama mencapai sekitar 964 atlet dan menempatkan Kotim di posisi kedua terbanyak setelah Kotawaringin Barat selaku tuan rumah Porprov 2026.
“Jumlah pendaftaran tahap satu kurang lebih 964 atlet menjadi peringkat dua setelah Kotawaringin Barat sebagai tuan rumah. Di situlah kita merasa optimis bahwa Kabupaten Kotim ikut berlaga maksimal dalam pesta olahraga provinsi tersebut,” tandasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post