SAMPIT — Camat Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Edison memastikan kesiapan awal pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat kabupaten tahun 2026 mulai dimatangkan, dengan Kecamatan Mentaya Hulu ditunjuk sebagai tuan rumah.
“Persiapannya sudah progres, sudah mulai kita lakukan. Kemarin kita sudah menghadap ke LPTQ kabupaten, tinggal dari LPTQ kabupaten melakukan survei ke Kecamatan Mentaya Hulu untuk mengecek arena,” ujar Edison, Senin 20 April 2026.
Ia menjelaskan, selain kesiapan arena utama, pihak kecamatan juga mulai menyiapkan pemondokan bagi kafilah dari seluruh kecamatan di Kotim. Untuk itu, para camat akan dilibatkan dalam pendataan kebutuhan akomodasi.
“Dari seluruh camat nanti kita panggil untuk mengecek pemondokan, nanti kita buat list-nya. Kalau sudah oke berarti selesai, setelah itu kita drop SK. Kalau di tingkat kecamatan sudah clear, tinggal di tingkat kabupaten melalui LPTQ dan bagian kesra,” jelasnya.
Setelah seluruh tahapan tersebut rampung, pihaknya akan melaporkan kesiapan kepada Bupati Kotim untuk mendapatkan arahan lebih lanjut terkait pelaksanaan.
Edison mengungkapkan, pelaksanaan MTQ direncanakan pada September 2026.
Penentuan waktu tersebut telah melalui koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menghindari musim hujan.
“Insya Allah bulan September, karena sudah koordinasi dengan BMKG diperkirakan bulan itu musim kemarau. Kalau lewat Oktober biasanya sudah musim hujan,” katanya.
Namun demikian, jadwal tersebut masih menyesuaikan agenda MTQ tingkat provinsi. Jika pelaksanaan di tingkat provinsi juga digelar pada September, maka Kotim harus memajukan jadwal agar proses seleksi kafilah berjalan optimal.
“Kalau provinsi bulan September, berarti kita harus maju pelaksanaannya, karena perwakilan ke provinsi diambil dari hasil MTQ kabupaten,” tambahnya.
Dari sisi anggaran, Edison mengakui masih menghadapi keterbatasan, terutama di tengah kebijakan efisiensi. Meski demikian, pihaknya tetap optimistis pelaksanaan MTQ dapat berjalan maksimal melalui kolaborasi berbagai pihak.
“Kalau dari kecamatan kita siap saja. Anggaran dari tahun ke tahun memang seperti itu, tapi kita sesuaikan dengan kemampuan. Kalau pakai vendor juga harus sesuai dengan kemampuan dana kita,” ungkapnya.
Ia berharap dukungan dari DPRD, khususnya dari daerah pemilihan (Dapil) 5, serta keterlibatan pihak perusahaan melalui program CSR dapat membantu menyukseskan kegiatan tersebut.
“Kalau ada dukungan dari DPRD saat perubahan anggaran dan kolaborasi dengan perusahaan, insya Allah kegiatan bisa sukses. Karena kalau hanya mengandalkan anggaran kecamatan tentu terbatas,” tandasnya.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post