SAMPIT – Camat Telaga Antang, Joko Aryadi Setiawan, menyoroti belum adanya Sekolah Menengah Atas (SMA) umum di wilayahnya hingga saat ini. Ia mengungkapkan, satu-satunya sekolah tingkat menengah yang tersedia hanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sementara kebutuhan masyarakat terhadap SMA negeri terus meningkat dari tahun ke tahun.
“Kami sudah beberapa kali menyampaikan ke provinsi dan membuat proposal pengajuan pembangunan SMA umum. Namun sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Yang ada di Telaga Antang hanya SMK, belum ada SMA umum. Kami sangat berharap ada perhatian dan realisasi agar anak-anak kami tidak perlu jauh keluar daerah untuk melanjutkan pendidikan,” ujar Joko, Selasa 3 Maret 2026.
Menurutnya, kondisi ini cukup memprihatinkan karena tidak semua lulusan SMP ingin atau cocok melanjutkan ke SMK. Banyak orang tua yang berharap anaknya bisa bersekolah di SMA umum, namun keterbatasan fasilitas membuat pilihan tersebut menjadi sulit.
Selain persoalan sarana pendidikan tingkat menengah, Joko juga menyoroti ketimpangan distribusi tenaga pendidik di wilayahnya. Ia menyebutkan, masih ada sekolah dasar (SD) di Telaga Antang yang hanya memiliki lima hingga enam orang guru, termasuk kepala sekolah.
“Ada SD yang gurunya hanya lima sampai enam orang saja, itu sudah termasuk kepala sekolah. Kasihan kepala sekolahnya, mau tidak mau harus ikut mengajar juga karena kekurangan tenaga pendidik. Kami berharap ada pemerataan guru agar kualitas pendidikan bisa lebih maksimal,” tegasnya.
Ia menambahkan, keterbatasan jumlah guru tentu berdampak pada efektivitas proses belajar mengajar. Dengan jumlah tenaga yang minim, satu guru kerap harus merangkap beberapa mata pelajaran, bahkan menangani lebih dari satu kelas. Kondisi tersebut dinilai tidak ideal untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan di daerah.
Pemerintah kecamatan, lanjut Joko, terus berupaya menyuarakan kebutuhan tersebut kepada pemerintah daerah maupun provinsi.
Harapannya, pembangunan SMA umum serta penambahan dan pemerataan tenaga pendidik dapat segera direalisasikan demi menjamin hak pendidikan yang layak bagi seluruh anak di Telaga Antang.
Ia menegaskan, pemerataan pendidikan bukan hanya soal pembangunan fisik sekolah, tetapi juga tentang ketersediaan sumber daya manusia yang memadai.
“Kami hanya ingin anak-anak di Telaga Antang mendapatkan kesempatan dan kualitas pendidikan yang sama seperti daerah lain,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post