SAMPIT – Pembukaan bazar di Ruang Pamer Utara Pasar PPM Sampit menjadi salah satu upaya konkret pengurus dan pedagang untuk meningkatkan kembali kunjungan masyarakat sekaligus mendongkrak volume transaksi, khususnya di sektor konveksi yang berada di lantai dua pasar.
Wakil Ketua Pengurus Pasar PPM Sampit, Wisnu, mengatakan bazar tersebut digagas murni atas inisiatif pedagang yang selama ini merasakan penurunan jumlah pembeli. “Kegiatan ini kami laksanakan semata-mata untuk para pedagang, terutama pedagang baju di lantai dua. Kondisi saat ini memang sepi pengunjung, bahkan banyak toko yang terpaksa tutup. Dengan adanya bazar ini, kami berharap bisa menjadi motivasi untuk meramaikan kembali PPM,” ujarnya, Minggu 15 Februari 2026.
Menurut Wisnu, dampak pandemi Covid-19 masih terasa hingga kini. Ia menyebut, pada masa Covid hampir 70 persen pedagang tidak dapat berjualan secara optimal karena adanya pembatasan aktivitas. Meski kondisi pascapandemi mulai membaik, namun pemulihan belum sepenuhnya terjadi.
“Alhamdulillah sekarang sudah ada kenaikan, tapi untuk pedagang baju masih jauh dari harapan. Kalau dibandingkan masa kejayaan sebelum Covid, pencapaiannya baru sekitar 60 persen. Sementara pedagang di lantai bawah sudah mulai stabil dengan pendapatan harian bisa mencapai tiga sampai empat juta rupiah,” katanya.
Untuk menarik minat pengunjung, pengurus pasar juga mulai mengupayakan promosi secara daring. Wisnu mengungkapkan, pihaknya telah menyepakati penyewaan influencer sebagai langkah awal memperkenalkan kembali dagangan pedagang PPM kepada masyarakat luas.
“Promosi online ini sudah berjalan, dan dananya bukan dari pemerintah daerah, tapi hasil patungan para pedagang. Ke depan harapannya para pedagang bisa melakukan live secara mandiri,” jelasnya. Dia juga berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah, khususnya terkait pendampingan pedagang dan penyesuaian biaya sewa kios yang dinilai masih cukup tinggi.
“Kami sudah sering mengusulkan agar sewa bisa diturunkan atau dihapuskan sementara, seperti janji sebelumnya. Tapi sampai sekarang belum terealisasi. Ada toko yang sewanya masih di kisaran Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per bulan,” ungkap Wisnu. Sementara itu, Staf Ahli Bupati Kotim Rafiq Iswandi menilai bazar dengan penerapan sistem harga pas tanpa tawar-menawar merupakan terobosan yang tepat. Menurutnya, kepastian harga akan meningkatkan kepercayaan pembeli.
“Harga pas ini sudah diperhitungkan oleh pedagang, mulai dari harga pokok hingga keuntungan. Dengan sistem ini, pembeli merasa lebih nyaman dan yakin untuk berbelanja,” katanya. Dia berharap bazar mampu menghidupkan kembali aktivitas pasar dan memperbesar perputaran ekonomi di Kota Sampit.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post