SAMPIT – Aktivitas penelitian pengolahan limbah sawit di area PT Sampit menuai keluhan warga Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Warga mengaku tidak pernah mendapatkan informasi resmi terkait adanya kegiatan tersebut, sementara dampak bau menyengat dirasakan cukup mengganggu kehidupan sehari-hari.
Ketua RT 12 Kelurahan Ketapang, Jamal Fahmi, menyampaikan bahwa warga baru mengetahui adanya aktivitas di PT Sampit setelah mencium bau tidak sedap yang muncul berulang kali.
“Memang adanya aktivitas penelitian di PT Sampit ini untuk limbah sawit kami selaku warga tidak mengetahui. Perusahaan juga tidak ada memberikan kabar atau informasi ini kepada kami selaku RT setempat, sehingga kami hanya mencium bau tidak sedap lalu kami mencari tahu sumber bau itu,” ujarnya, Selasa 20 Januari 2026.
Jamal menjelaskan, bau yang tercium berbeda dan lebih parah dibandingkan bau aktivitas PT Sampit sebelumnya. Menurutnya, bau tersebut sangat menyengat hingga menyesakkan.
“Bau yang dikeluarkan ini lebih parah dari bau aktivitas PT Sampit sebelumnya karena baunya menyesakkan seperti bau WC bocor. Awalnya saya pikir itu bau dari WC tetangga yang bocor, ternyata hal ini sudah ramai diperbincangkan di media sosial,” katanya.
Ia mengungkapkan, keluhan warga sebenarnya bukan kali pertama. Pada bulan sebelumnya, bau serupa juga muncul dan sempat menjadi perhatian publik di media sosial. Saat itu, pihak DLH sempat turun langsung ke lapangan dan mengonfirmasi keluhan warga, bahkan meninggalkan kontak pengaduan jika bau kembali muncul.
“Setelah itu sempat hilang bau. Namun setelah sekitar sebulan kemudian, bau muncul lagi sekarang ini, lalu kami adukanlah kepada DLH bersama-sama diketahui warga setempat,” ungkap Jamal.
Menurutnya, saat ini bau masih tercium meski sudah bercampur dengan aroma pewangi. Kondisi tersebut tetap membuat warga tidak nyaman, terlebih karena tidak ada kejelasan mengenai aktivitas yang dilakukan di area perusahaan.
“Minggu lalu kami sempat mengadakan pertemuan bersama lurah, namun pembahasannya tidak nyambung. Ini merupakan keluhan yang kedua kami sampaikan,” tambahnya.
Jamal menegaskan bahwa warga pada prinsipnya tidak menolak adanya investasi atau kegiatan ekonomi di wilayah mereka. Namun, ia berharap aktivitas tersebut tidak mengorbankan kenyamanan masyarakat sekitar.
“Sebenarnya kami tidak ingin menghalangi adanya investor atau kegiatan ekonomi di wilayah ini. Aktivitas tidak masalah, tapi teknisnya harus dicari solusi agar bau tidak mengganggu warga,” tegasnya.
Ia menyebutkan, setidaknya ada lima RT di sekitar lokasi yang terdampak langsung oleh bau tersebut. Karena itu, warga berharap ada langkah konkret untuk mengatasi persoalan, baik dari pihak pengelola maupun pemerintah daerah.
Keluhan serupa juga disampaikan Ketua RT 60, Nadi. Ia menilai warga sebenarnya sudah berupaya beradaptasi, namun kondisi saat ini tetap menimbulkan keberatan.
“Warga sudah beradaptasi, tapi kalau masih seperti ini warga keberatan. Masalahnya masih banyak warga yang menganggur,” ujarnya.
Nadi membandingkan kondisi saat ini dengan masa operasional PT Sampit sebelumnya, di mana perusahaan banyak mempekerjakan warga sekitar. Menurutnya, saat itu warga cenderung lebih bisa menerima dampak bau karena mereka juga mendapatkan manfaat ekonomi.
“Dahulu PT Sampit mempekerjakan warga sekitar sehingga warga biasa saja dengan dampak bau karena mereka juga mencari penghasilan di perusahaan itu,” katanya.
Ia menyebutkan, kegiatan penelitian limbah ini sudah berjalan sekitar dua bulan, sementara tahap persiapannya berlangsung hampir setengah tahun. Meski ada beberapa warga yang bekerja, namun itu merupakan karyawan lama PT Sampit.
“Kalau untuk merekrut warga setempat untuk kegiatan ini masih belum ada,” ujarnya.
Warga berharap, ke depan ada keterbukaan informasi, koordinasi yang lebih baik, serta solusi teknis agar aktivitas pengolahan limbah tidak lagi menimbulkan bau menyengat. Selain itu, masyarakat juga berharap adanya manfaat ekonomi nyata bagi warga sekitar agar keberadaan kegiatan tersebut benar-benar dirasakan secara positif.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post