SAMPIT – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus menunjukkan perannya dalam melestarikan kerajinan lokal sekaligus membina pelaku UMKM melalui berbagai kegiatan yang digelar pada rangkaian Hari Jadi ke-73 Kotim.
Salah satu fokus utama tahun ini adalah lomba kerajinan daerah yang dikemas dalam Gelora Kriya Dekranasda dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.
Ketua Harian Dekranasda Kotim Johny Tangkere mengatakan, kegiatan Dekranasda tahun ini menjadi bagian penting dalam memajukan kerajinan tradisional agar tidak hilang ditelan zaman. Salah satunya melalui lomba antar kecamatan dengan memperebutkan piala bergilir Ketua Umum Dekranasda.
“Ada perebutan piala bergilir Ketua Umum Dekranasda untuk kecamatan. Jadi salah satu yang kami coba bagaimana kerajinan daerah seperti menjawet atau menganyam rotan itu dikembangkan betul-betul,” ujarnya, Kamis 15 Januari 2026.
Dalam lomba tersebut, Kecamatan Seranau berhasil keluar sebagai juara umum Gelora Kriya Dekranasda. Johny menilai capaian ini menjadi bukti bahwa kerajinan tradisional masih memiliki potensi besar jika terus dibina.
“Iya, untuk juara umum itu Kecamatan Seranau. Menjawet itu menganyam rotan, dan kemarin mereka juara. Kita harapkan tahun depan kecamatan lain juga ikut,” katanya.
Ia menyebutkan, dari 17 kecamatan di Kotim, baru tujuh kecamatan yang ambil bagian dalam lomba kerajinan. Hal ini menjadi catatan penting bagi Dekranasda ke depan.
“Masih kurang, karena budaya itu sekarang mulai ditinggalkan. Kalau kita lihat, yang bisa itu kebanyakan orang tua. Nah, ke depan jangan sampai hilang, yang muda harus diajarkan,” tegas Johny.
Menurutnya, pelestarian budaya menjawet atau menganyam rotan harus dilakukan secara berkelanjutan, meski dihadapkan pada tantangan perkembangan teknologi.
“Budaya menjawet ini kan ketinggalan dari teknologi, tapi justru itu harus dilestarikan. Itu salah satu tugas Dekranasda, yang ketuanya Ibu Khairiah Halikinnor, Ketua TP PKK Kotim, untuk memastikan kerajinan daerah jangan sampai habis ditelan zaman,” jelasnya.
Selain lomba, Dekranasda Kotim juga berfokus pada pembinaan UMKM dan para perajin. Johny mengakui, dukungan pemerintah daerah selama ini terus berjalan, meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi.
“Selama ini kita mendukung perkembangan UMKM, cuma pada saat saya menjabat ini kita terkena efisiensi anggaran yang cukup besar, sehingga APBD menurun. Akibatnya, dukungan dari sisi anggaran memang kurang maksimal,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menilai banyak pelaku UMKM dan perajin yang sebenarnya hanya membutuhkan bantuan sederhana untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas usaha. Johny mencontohkan seorang perajin perahu di kawasan Bukit Santuai yang masih bekerja dengan peralatan manual.
“Saya lihat ada seorang bapak membuat perahu dengan alat sederhana, hanya paku dan palu. Padahal kalau dibantu bor listrik atau alat lain, dia bisa pakai skrup sehingga lebih awet dan hasilnya lebih bagus,” katanya.
Menurut Johny, bantuan untuk UMKM seperti itu tidak memerlukan dana besar.
“Sebenarnya mereka itu tidak butuh dana besar, paling 25 juta, 30 sampai 40 juta untuk beli peralatan seperti bor listrik, ketam listrik, alat-alat yang bisa dipakai sehari-hari,” ujarnya.
Ia menekankan, pembinaan UMKM dan perajin daerah harus dimulai dari tingkat bawah melalui mekanisme perencanaan pembangunan.
“Harapan saya itu lewat musrenbang, dari desa dan kecamatan, UMK seperti ini harus didorong. Jangan hanya mikir yang besar-besar saja. UMK harus diusulkan untuk mendapatkan bantuan,” tegasnya.
Johny juga meminta peran aktif kepala desa, lurah, dan camat untuk menjadikan pelaku UMKM sebagai prioritas perhatian.
“Lurah, kepala desa, camat, itu harus jadi perhatian. Mereka usulkan nanti, kita dinas terkait yang sediakan alatnya. Bagi mereka, bantuan 25 juta itu sudah besar sekali,” katanya.
Dengan rangkaian lomba kerajinan dan pembinaan yang terus dilakukan, Johny berharap Dekranasda Kotim dapat menjadi motor penggerak pelestarian budaya sekaligus penguatan ekonomi masyarakat.
“Kerajinan daerah ini harus terus berjalan, terus dilanjutkan. Jangan sampai hilang, tapi justru berkembang dan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat ke depan,” pungkasnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post