SAMPIT – Di balik semarak pesta pergantian tahun, ada denyut ekonomi rakyat yang ikut bergerak. Tradisi bakar-bakar jagung saat malam tahun baru menjadi berkah tersendiri bagi petani jagung di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yang setiap akhir Desember kebanjiran pesanan dari berbagai daerah.
Momentum ini dimanfaatkan betul oleh Sumardianto, petani jagung berusia 70 tahun yang telah menekuni usaha budidaya jagung selama lebih dari dua dekade. Berbekal pengalaman dan perhitungan waktu tanam yang matang, ia menyiapkan panen jauh hari agar jagung bisa dipetik tepat saat permintaan mencapai puncaknya.
“Memang sengaja ditanam untuk kebutuhan tahun baru. Kalau salah hitung waktu, bisa rugi karena lewat masa segar,” ujar Sumardianto saat ditemui di kebunnya, Selasa 30 Desember 2025.
Dari lahan seluas kurang lebih 50 x 100 meter persegi, Sumardianto mampu menghasilkan sekitar 8.000 biji jagung jenis Harmonis. Varietas ini dipilih karena rasanya manis dan masa panennya relatif singkat, sekitar 65 hari, sehingga sangat cocok untuk kebutuhan musiman menjelang akhir tahun.
Jagung hasil panen tersebut kemudian disortir berdasarkan kualitas. Jagung kualitas A dijual Rp3.500 per buah, kualitas B Rp3.000, dan kualitas C Rp2.500. Setiap ikat berisi 10 buah, dengan harga berkisar Rp25 ribu hingga Rp35 ribu per ikat.
“Kalau ditotal, keuntungan bersihnya bisa sampai Rp15 juta,” ungkapnya.
Menariknya, lonjakan permintaan tidak hanya datang dari warga Kota Sampit. Pesanan juga berdatangan dari kawasan perkebunan kelapa sawit hingga daerah tetangga seperti Kabupaten Seruyan. Namun, Sumardianto mengaku tetap membatasi penjualan agar kebutuhan masyarakat Sampit tetap terpenuhi.
“Yang pesan sudah ratusan biji, bahkan sampai 500 biji lebih. Tapi tetap kami atur, karena di Sampit sendiri kebutuhannya besar,” katanya.
Untuk menjaga kualitas, ia menerapkan sistem panen bertahap sesuai pesanan. Dalam sehari, ia bisa memanen sekitar 200 hingga 300 biji jagung. Cara ini dilakukan agar jagung tetap segar saat diterima pembeli, terutama yang berada di wilayah cukup jauh.
Pemasaran pun dilakukan secara sederhana namun efektif. Selain mengandalkan pelanggan tetap, ia juga memanfaatkan media sosial seperti Facebook untuk menjangkau pembeli baru. Foto-foto jagung segar yang diunggah kerap langsung dibanjiri pesanan.
“Biasanya anak saya yang bantu posting. Tapi banyak juga yang sudah langganan tiap tahun, tinggal telepon atau datang langsung,” imbuhnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi masyarakat tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga berperan penting dalam menggerakkan roda ekonomi lokal.
Bagi petani seperti Sumardianto, malam tahun baru bukan sekadar pergantian kalender, melainkan masa panen rezeki yang telah dipersiapkan sejak berbulan-bulan sebelumnya.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post