SAMPIT – Sepanjang tahun 2025, Kabupaten Kotawaringin Timur menghadapi tantangan alam yang berat dengan sebaran bencana yang cukup merata di berbagai wilayah, mulai dari kebakaran lahan hingga banjir bandang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, mengungkapkan bahwa dinamika cuaca dan aktivitas manusia menjadi faktor utama di balik angka-angka statistik yang muncul dalam rekapitulasi akhir tahun ini.
“Berdasarkan data yang dihimpun, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang tercatat sebagai wilayah yang paling rawan, terutama dalam menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan total 17 kejadian sepanjang tahun,”ujarnya, Selasa 30 Desember 2025.
Multazam menjelaskan bahwa tingginya angka kebakaran di Mentawa Baru Ketapang mengungguli kecamatan tetangganya, Baamang, yang mencatatkan 8 kejadian, serta Mentaya Hilir Selatan dengan 3 kejadian.
Sementara itu, wilayah lain seperti Seranau mencatatkan 2 kasus, diikuti oleh Cempaga, Pulau Hanaut, Kota Besi, Teluk Sampit, Mentaya Hilir Utara, hingga Parenggean yang masing-masing mengalami satu kali peristiwa kebakaran lahan.
Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan tim pemadam yang lebih intensif di area perkotaan dan sekitarnya agar api tidak merambat ke pemukiman warga yang padat.
“Kami melihat pola di mana wilayah perkotaan justru menjadi titik panas utama untuk karhutla dan cuaca ekstrem, sehingga strategi pencegahan tahun depan akan lebih kita pertajam di sektor-sektor ini,” ujar Multazam saat memaparkan evaluasi bencana tersebut.
Selain api yang menghanguskan lahan, cuaca ekstrem juga menjadi momok menakutkan bagi warga perkotaan, di mana Mentawa Baru Ketapang kembali menempati posisi teratas dengan 14 kali kejadian cuaca ekstrem.
Ancaman angin kencang dan hujan lebat ini juga melanda Baamang sebanyak 6 kali, Kota Besi 3 kali, Cempaga Hulu 2 kali, serta Mentaya Hilir Selatan sebanyak satu kali kejadian.
Multazam menambahkan bahwa tantangan di wilayah utara atau hulu justru berbanding terbalik, di mana air menjadi masalah utama dibandingkan api.
Tercatat, Kecamatan Bukit Santuai menjadi daerah yang paling terdampak banjir dengan 8 kali kejadian, disusul ketat oleh Tualan Hulu dengan 7 kali kejadian.
Fenomena banjir ini juga dirasakan oleh warga di Telaga Antang dan Mentaya Hilir Selatan dengan masing-masing 5 kejadian, serta Cempaga Hulu dengan 4 kejadian dan Parenggean dengan 3 kejadian sepanjang tahun 2025.
“Sebaran banjir di wilayah hulu seperti Bukit Santuai dan Tualan Hulu menjadi pengingat bagi kita semua untuk tetap menjaga resapan air dan waspada saat debit sungai mulai meningkat,” tegasnya.
Selain banjir di wilayah hulu, data BPBD juga menunjukkan frekuensi banjir yang lebih rendah yakni 2 kejadian di wilayah Telawang, Baamang, Antang Kalang, dan Pulau Hanaut, sementara Mentawa Baru Ketapang, Teluk Sampit, Kota Besi, dan Mentaya Hulu masing-masing mencatatkan satu kali peristiwa banjir.
Terakhir, sisi kelam penanganan bencana tahun ini terlihat dari data operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) yang mencatatkan angka kehilangan nyawa cukup signifikan.
Kecamatan Teluk Sampit menjadi wilayah paling mematikan dalam konteks ini, di mana dari 3 kejadian SAR yang dilakukan, terdapat 5 korban yang dinyatakan meninggal dunia.
Multazam pun menekankan pentingnya keselamatan dalam beraktivitas di air, mengingat kejadian serupa juga merenggut nyawa di wilayah lain seperti Mentaya Hulu dengan 2 korban jiwa dari satu kejadian, serta Pulau Hanaut, Cempaga Hulu, Cempaga, dan Kota Besi yang masing-masing mencatatkan satu korban jiwa.
“Setiap nyawa yang hilang adalah duka bagi kita semua, dan operasi SAR di Teluk Sampit hingga pelosok kecamatan lainnya merupakan bagian dari evaluasi kami untuk memperkuat edukasi keselamatan bagi warga,” tutur Multazam.
Secara keseluruhan, potret bencana di Kotim sepanjang 2025 ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk membangun ketahanan yang lebih kuat di masa depan, mengingat ancaman alam yang bisa datang kapan saja tanpa mengenal waktu.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post