SAMPIT – Di tengah riuhnya ekspansi perkebunan di Kalimantan Tengah, sebuah desa kecil di Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur, terus berdiri menjaga sisa napas hutan tropis terakhir.
Desa Tumbang Ramei kini menjadi simbol perlawanan sunyi terhadap ancaman pembabatan hutan yang tersisa, saat sekitar 4.000 hektare bentang alamnya masih diincar oleh perusahaan besar yang pernah diberi izin, PT Bintang Sakti Lenggana (BSL).
Kepala Desa Tumbang Ramei, Natalis, tak menampik bahwa izin lokasi seluas 9.566 hektare yang dikantongi perusahaan masih menyisakan ancaman. Walau sebagian kecil izinnya telah dicabut, nyatanya penggarapan masih membayangi kawasan hutan yang penuh dengan tanaman endemik dan kayu bernilai tinggi seperti Ulin, Meranti, Bengkirai, dan Benuas.
“Kami tahu memang ada pencabutan, tapi hanya 200 hektare. Sementara 4.000 hektare hutan yang masih alami belum sepenuhnya aman. Perusahaan tampaknya tengah melengkapi izin untuk tetap melanjutkan ekspansi,” kata Natalis, Jumat 1 Agustus 2025.
Ia menegaskan bahwa masyarakat desa menolak langkah itu, dan berharap pemerintah tak hanya mengambil tindakan parsial. Bagi warga, mempertahankan hutan lebih dari sekadar menjaga pohon, ini tentang menjaga hidup, menjaga ekosistem, dan menjaga warisan alam yang tidak akan terganti.
Sikap tegas sempat diungkapkan Bupati Kotim Halikinnor. Dalam pernyataannya beberapa waktu lalu, ia mengaku telah menyiapkan langkah pencabutan izin perusahaan di kawasan Tumbang Ramei. Bahkan, hutan tersebut hendak dijadikan hutan monumental karena merupakan hutan asli dengan karakteristik yang langka dan pohon-pohon berusia ratusan tahun.
”Saya ingin jadikan hutan di Tumbang Ramei ini sebagai hutan monumental dan tetap dipertahankan, karena mungkin hutan semacam ini tidak ada lagi yang lain,” ucap Halikinnor kala itu.
Namun, proses pencabutan izin dan penghentian ekspansi bukan perkara sederhana. Izin usaha perkebunan (IUP) yang dimiliki PT BSL terlanjur menyebar di sejumlah desa lainnya seperti Tumbang Kalang, Sungai Puring, Kuluk Telawang, hingga Tumbang Hejan. Tumbang Ramei hanya salah satu dari titik-titik hutan yang kini rentan digerus atas nama investasi.
Warga desa menyadari bahwa mereka berdiri di batas tipis antara perlindungan dan kehilangan. Oleh karena itu, mereka memilih menjaga hutan dengan cara mereka sendiri, memastikan tidak ada alat berat masuk, memastikan setiap pohon tetap berdiri, dan memastikan suara penolakan tetap nyaring meski tak selalu terdengar.
“Ini bukan hanya untuk kami di Tumbang Ramei. Ini untuk Kalteng, untuk anak cucu. Kalau hutan terakhir ini hilang, ke mana lagi kita akan mencari perlindungan dari panasnya dunia?” ujar Natalis lirih.
Kini, Tumbang Ramei bukan sekadar nama desa. Ia telah menjadi penanda, bahwa di satu sudut Kalimantan, masih ada yang memilih menjaga daripada menyerah.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post