SAMPIT – Di tengah kemarau yang kian menggigit, suara gemericik air lenyap dari anak sungai Teluk Tewah, Desa Luwuk Bunter. Sungai-sungai kecil yang dulu menjadi urat nadi kehidupan dan pertahanan warga kini berubah menjadi jalur tanah retak dan kering kerontang.
Dalam senyap, warga mulai menyusun perlawanan mereka, bukan dengan teriakan, tapi dengan cangkul, bor, dan semangat bertahan.
Kekeringan ini bukan sekadar ancaman krisis air, tapi juga alarm bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Puryanto, warga setempat, berdiri di tepi irigasi yang dulunya mengalir deras, kini hanya menyisakan tanah berdebu. Ia tahu, saat api datang, ketiadaan air akan membuat semuanya tak berdaya.
“Sudah beberapa hari ini kering. Kalau ada api, mau padamkan pakai apa? Sungai pun sudah tidak bisa diandalkan,” ujarnya, Jumat 1 Agustus 2025.
Tak menunggu pemerintah turun tangan, warga memilih aksi konkret. Gali sumur, buat embung, bahkan tutup parit agar sisa air bisa ditahan lebih lama. Doa pun tak lupa dipanjatkan, berharap hujan turun sebelum api sempat berkobar.
Sarwino, petani lain di desa itu, bahkan menyulap kebunnya menjadi barisan titik-titik pertahanan. Ia membuat 30 sumur kecil, membiayai sendiri seluruh penggaliannya. Bagi Sarwino, ini bukan soal untung rugi, melainkan bertahan hidup.
“Semua sudut saya pasangi sumur. Dulu waktu kemarau parah, air bersih jadi masalah besar. Sekarang kami belajar dari pengalaman itu,” kata Sarwino.
Namun perlawanan ini tidak sebanding dengan potensi bencana yang bisa datang sewaktu-waktu. Hingga kini, alat pemadam api hanya tersedia seadanya. Permintaan bantuan lewat berbagai forum warga belum juga membuahkan hasil.
“Padahal karhutla itu bukan bencana tiba-tiba. Bisa dihitung, bisa diukur. Tapi kenapa masih sering kita tidak siap?” ujarnya heran.
Lebih jauh, Sarwino menepis anggapan bahwa peladang tradisional masih jadi penyebab utama karhutla. Menurutnya, sistem bakar ladang sudah lama ditinggalkan, namun stereotip itu masih saja digunakan.
“Sudah tidak ada lagi di sini peladang yang bakar hutan seperti dulu. Tapi setiap tahun kami yang selalu disalahkan,” tegasnya.
Kini, saat tanah mulai retak dan langit belum menjanjikan hujan, warga Luwuk Bunter hanya punya satu pegangan: kebersamaan dan kesadaran bahwa mereka tidak bisa menunggu. Mereka tahu, jika bukan mereka yang memulai bertahan, maka tak ada yang bisa disalahkan saat semuanya terbakar.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post