SAMPIT – Udara pagi di Bundaran Polres Sampit terasa berbeda, Jumat 1 Agustus 2025. Di tengah lalu lalang kendaraan, puluhan petugas dari berbagai instansi pemerintah berdiri di persimpangan empat jalan besar: Cilik Riwut, Kapten Mulyono, A. Yani, dan Jenderal Sudirman.
Di tangan mereka, ratusan bendera merah putih dikibarkan, lalu diserahkan satu per satu kepada pengguna jalan yang melintas. Gerakan ini bukan sekadar seremoni, tapi sebuah ajakan moral untuk menghidupkan kembali semangat nasionalisme di tengah masyarakat.
Plt Kepala Kesbangpol Kotim, Rihel, menyebut, Gerakan Pembagian Bendera Merah Putih ini menjadi langkah awal menyambut Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.
“Diinisiasi oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kotawaringin Timur, kegiatan ini menyentuh ruang-ruang publik paling ramai di jantung Kota Sampit,”ujarnya, Jumat 1 Agustus 2025.
Sebuah simbol bahwa semangat kemerdekaan tak boleh lagi tinggal di ruang-ruang formal belaka, melainkan harus turun ke jalanan, merasuk dalam kehidupan sehari-hari.
“Gerakan ini bukan hanya agenda rutin tahunan. Kita ingin mengajak masyarakat merayakan kemerdekaan dengan penuh kesadaran. Ini bukan formalitas, ini bagian dari cara kita mengingat jati diri sebagai bangsa,” ucapnya penuh semangat saat menyampaikan laporan kegiatan.
Ia menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan instruksi dari Kementerian Dalam Negeri serta surat edaran Bupati Kotim. Namun, lebih dari itu, dorongan terbesar datang dari kebutuhan untuk mengembalikan rasa memiliki terhadap bangsa, yang terkadang terkikis dalam kesibukan harian.
Sebanyak 11 instansi dikerahkan dalam pembagian bendera di ruas-ruas jalan utama. Jalan Cilik Riwut digarap oleh Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD, Kesbangpol, Satpol PP, dan Badan Pendapatan Daerah.
Di A. Yani, giliran BKAD dan Dinas Perhubungan yang turun tangan. Bapperida dan Dinas SDA BMBKPRKP membagikan bendera di Jalan Jenderal Sudirman, sementara Jalan Kapten Mulyono dipercayakan kepada Disnakertrans dan DPMPTSP.
“Simbolnya memang sederhana, sehelai bendera. Tapi maknanya dalam. Setiap warga yang menerimanya, kita harap bisa merasakan semangat yang sama: bahwa kemerdekaan adalah milik semua,” tutur Rihel.
Pembiayaan kegiatan ini bersumber dari APBD Kotim melalui DPA Kesbangpol tahun anggaran 2025. Namun tak sedikit pula dukungan dari berbagai pihak yang menyumbang bendera secara sukarela, sebuah bentuk gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat.
Rihel juga mengapresiasi peran seluruh OPD yang turut terlibat dalam aksi tersebut. Ia berharap gerakan ini mampu memicu partisipasi masyarakat secara lebih luas, mulai dari memasang bendera di rumah dan tempat usaha, hingga mengikuti berbagai kegiatan kemerdekaan yang digelar sepanjang bulan Agustus.
“Kalau bendera ini bisa dikibarkan di halaman rumah, di kaca mobil, di toko, atau bahkan di warung sederhana, itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kita masih satu dalam merah putih,” ucapnya.
Di tengah tantangan zaman, gerakan ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan sekadar sejarah yang diperingati, melainkan nilai yang harus terus dihidupkan, setiap hari, oleh setiap warga.
(dia/matakalteng)





















Discussion about this post