SAMPIT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal ini menyusul turunnya curah hujan secara drastis dalam beberapa hari terakhir yang diperkirakan hanya mencapai 50 milimeter, berdasarkan data dari BMKG.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan bahwa cuaca panas ekstrem sudah terjadi selama hampir sepekan terakhir, tanpa ada pertumbuhan awan hujan yang signifikan.
“Kotim saat ini sudah mulai panas. Informasi dari BMKG menyebutkan prakiraan hujan hanya 50 mm, sangat rendah sekali. Dalam lima sampai enam hari terakhir ini belum ada hujan. Setelah kami melakukan kaji cepat, kami akan segera melaporkan dan berkoordinasi dengan pimpinan untuk menyampaikan perkembangan ini,” ujarnya, Selasa 22 Juli 2025.
Ia menjelaskan, kaji cepat yang dilakukan akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mengambil keputusan terkait peningkatan status siaga. Evaluasi status ini akan dibahas lebih lanjut dalam rapat koordinasi bersama unsur pimpinan daerah.
“Apakah status kita akan naik atau tetap, itu akan kami diskusikan pada pertemuan selanjutnya. Saat ini kami masih terus memantau dan akan segera menyampaikan laporan secara berjenjang,” katanya.
Meski hingga saat ini belum ada kebakaran terpantau di wilayah Kotim, namun kondisi wilayah Kalimantan dan Sumatera sudah menunjukkan indikasi awal peningkatan risiko karhutla. Beberapa wilayah di Kalimantan Barat bahkan telah dilaporkan mulai diselimuti asap.
“Hasil dari analisis kewaspadaan kita menunjukkan curah hujan terus menurun. Sebaran asap sudah mulai terjadi di beberapa kepulauan dan provinsi. Kita berharap Kotim tetap aman. Dari monitoring kami, memang belum terjadi kebakaran, tapi potensi itu bisa saja muncul sewaktu-waktu,” imbuh Multazam.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas pencegahan yang berbasis pada kekuatan masyarakat. Tahun ini, BPBD Kotim mengandalkan delapan kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) yang dibentuk dengan bantuan dari Pemprov Kalteng sebagai garda terdepan dalam penanganan dini karhutla.
“Kita berharap perpanjangan tangan kami melalui MPA yang tersebar di desa-desa bisa memberi kontribusi nyata. Ini bagian dari permodelan baru yang kami dorong agar pelibatan masyarakat dalam sistem penanganan bencana bisa lebih optimal,” tegasnya.
Multazam mengakui bahwa bulan Juli menjadi periode yang cukup padat dengan berbagai kegiatan, termasuk pelatihan, pemantauan lapangan, dan persiapan penguatan tim siaga.
“Kami menganggap saat ini kami berpacu dengan berbagai aktivitas lain. Namun penanganan bencana tetap menjadi prioritas. Kami akan segera laporkan hasil kajian ini. Karena Pak Bupati masih dalam perjalanan umrah, kami akan melaporkan secara berjenjang kepada Ibu Wakil Bupati untuk menentukan langkah strategis ke depan,” pungkasnya.
BPBD mengajak masyarakat tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran, seperti pembakaran lahan atau pembuangan puntung rokok sembarangan. Kolaborasi pemerintah dan masyarakat diharapkan menjadi kunci dalam menjaga Bumi Habaring Hurung tetap aman dari bencana karhutla.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post