SAMPIT – Semangat pelestarian budaya Dayak kembali berkobar di Desa Luwuk Sampun, Kecamatan Tualan Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur. Masyarakat bersama pemerintah dan dunia usaha memulai pembangunan rumah adat Betang yang dirancang megah, menjadi yang pertama dan terbesar di wilayah tersebut.
“Ini bukan sekadar bangunan fisik, tapi simbol identitas dan potensi wisata budaya yang sangat besar. Ini harapan yang lama kita nantikan,” ujar Damang Kepala Adat Tmg Leger Toegal Kunum usai memimpin prosesi adat Tampung Tawar, Minggu 29 Juni 2025. Hal itu sebagai penanda dimulainya pembangunan tiang utama Betang.
Proyek yang digagas secara swadaya ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap makin langkanya rumah Betang, ikon peradaban Dayak yang berusia ribuan tahun. “Semangat kebersamaan dan dukungan dari semua pihak, bahwa sesuatu yang berat kalau dipikul bersama pasti terasa ringan, itulah harapan kami untuk mengukir sejarah dan meninggalkan legasi untuk masyarakat Adat Dayak di Tualan Hulu,” ucap Leger.
Ketua Panitia Pembangunan, Anggau, menjelaskan bahwa tahap awal telah didukung dana pemerintah dan kontribusi para pengusaha. Material utama juga telah tersedia dan pemasangan tiang dilaksanakan secara tradisional sesuai adat setempat. Sementara Anggota DPRD Kotim dari Dapil V, Hendra Sia, menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan kelanjutan proyek melalui jalur aspirasi.
“Saya akan perjuangkan agar proyek ini masuk dalam skala prioritas pembangunan daerah,” tegasnya. Dukungan juga datang dari pihak swasta. Perwakilan PT HAL yang hadir dalam acara menyatakan kesiapan perusahaan untuk terlibat aktif dan mengoordinasikan PBS lainnya demi kelancaran pembangunan. Betang yang ditargetkan rampung pada 2026 ini diharapkan menjadi ikon wisata budaya baru di Kotim, menyusul kepopuleran Betang Tumbang Gagu yang telah dikenal hingga mancanegara.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post