SAMPIT – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat fungsi Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebagai garda terdepan layanan kesehatan dan sosial dasar masyarakat.
Hal ini ditegaskannya saat membuka kegiatan Advokasi, Koordinasi, dan Bimbingan Teknis Pokjanal Posyandu serta Launching Desa Siaga Stunting tingkat Kabupaten Kotim, Kamis 12 Juni 2025 di Aquarius Boutique Hotel Sampit.
Dalam arahannya, Halikinnor menyampaikan bahwa Posyandu ke depan tidak hanya melayani kesehatan ibu dan anak semata, tetapi akan menjadi pusat pelayanan masyarakat yang lebih luas dan terpadu.
“Posyandu akan menjadi pusat wadah pelayanan masyarakat yang menyediakan berbagai layanan yang sesuai dengan keinginan dan kondisi Posyandu setempat,” ujarnya, Kamis 12 Juni 2025.
Ia menekankan bahwa dalam upaya penguatan peran Posyandu, keberadaan Pokjanal dan Pokja Posyandu sangat penting dan strategis. Pokjanal berperan sebagai penggerak utama lintas program dan lintas sektor untuk mendukung pengembangan Posyandu aktif.
“Pokjanal dan Pokja Posyandu mempunyai peran penting. Pertama, sebagai rujukan bagi para pemangku kepentingan untuk memahami perannya masing-masing dalam pengembangan Posyandu aktif sesuai tugas pokok dan fungsinya,” jelas Halikinnor.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa peran kedua Pokjanal adalah sebagai sarana koordinasi perencanaan, pelaksanaan kegiatan, pemantauan, dan evaluasi, sehingga tercipta sinergi yang kuat antarinstansi dan pemangku kepentingan dalam mengembangkan Posyandu.
Peran ketiga, lanjutnya, adalah sebagai dasar penyusunan dan pengalokasian anggaran masing-masing pihak yang terlibat, mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa atau kelurahan.
“Ketiga peran ini sangat penting untuk memastikan bahwa upaya bersama kita tidak bersifat sporadis, tetapi sistematis dan berkelanjutan. Terutama sebagai bagian dari upaya percepatan penurunan stunting di Kotim,” katanya.
Halikinnor juga menyinggung tingginya angka stunting di Kabupaten Kotim berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, yang mencapai 35,5 persen. Menurutnya, angka ini harus menjadi perhatian serius semua pihak.
“Kalau kita tidak serius menanganinya, ini akan berdampak langsung pada kualitas generasi penerus kita di masa depan,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari lintas sektor pemerintah, lembaga masyarakat, hingga kader Posyandu di tingkat desa, untuk lebih aktif dan kolaboratif.
“Dengan sinergi yang kuat dan peran yang dijalankan secara optimal, saya yakin kita bisa menurunkan angka stunting di Kotim secara signifikan,” pungkas Halikinnor.
(dia/matakalteng)




















Discussion about this post